Banjir Rob Kembali Genangi Rumah Warga Belawan Berbuntut Panjang

Image: Banjir Rob Kembali Genangi Rumah Warga Belawan Berbuntut Panjang

RADARINDO.co.id-Belawan : Banjir rob yang melanda pemukiman warga Belawan berbuntut panjang. Pasalnya banjir tidak hanya menggenani badan jalan tapi masuk ke rumah pada saat warga tengah lelap tidur.

Warga mengakui air menggenangi badan jalan dan masuk ke dalam rumah warga hingga beberapa meter, Sabtu (14/11/2020) sekira pukul 02.00 dinihari.

Berdasarkan keterangan warga, banjir yang melanda rumah warga mulai diseputaran Sicanang Belawan sudah berlangsung selama tiga malam dilanda banjir, sejak malam Kamis hingga Sabtu dinihari.

Banjir selama selama tiga malam ternyata sudah diantisipasi warga, sehingga banjir yang memuncak Sabtu, dinihari telah sempat mengagetkan warga.

Artinya, warga sudah mengamankan barang barang rumah tangga ke tempat yang aman agar tidak basah. Menurut warga, banjir rob itu
terbagi dua pasang yakni pasang 15 dan pasang 30.

Banjir rob atau pasang 15 air kecil sedangkan pasang 30 air besar dan bisa menggenangi badan jalan dan rumah warga. Beberapa warga mengaku kejadian pasang 30 ini terjadi diduga sejak ada penimbunan proyek di ujung baru hingga lampu satu.

Konon menurut warga, dahulu ada banjir atau pasang Perdani yang datang hanya setahun sekali. Sedangkan banjir rob belakangan ini cenderung bisa merusak infrastruktur.

Aspek lain, pemerintah harus mengalokasikan anggaran setiap tahun untuk peningkatan badan jalan termasuk rumah warga.

Dampak banjir robb, Sabtu (14/11/2020) dinihari berbuntut panjang. Warga Belawan kini makin cerdas, salah satunya adalah pemberian dana tali asih dinilai bukan solusi dari dampak banjir robb.

Warga sangat menyesalkan pihak terkait terbitnya perizinan penimbunan yang terkesan kurang memperhatikan aspek pengelolaan lingkungan. Buktinya banjir rob tidak hanya menggenangi badan jalan tapi masuk ke rumah rumah warga.

Sebelumnya, warga sempat melakukan protes terkait adanya proyek BUMN di Belawan, terancam mengakibatkan banjir Rob.

Warga mengatakan, perusahaan BUMN kembali kembangkan pembangunan pelabuhan. Kali ini dilaksanakan pembangunan penumpukan dan tangki timbun.

Namun pembangunan tersebut dinilai ancaman baru bagi perkampungan masyarakat Medan Utara khususnya Kecamatan Medan Belawan dan sekitarnya.

Pembangunan tersebut menutup sebagian aliran pasang surut pasang rob di daerah Kelurahan Belawan 1. Selain itu, lokasi yang ditimbun proyek BUMN berhubungan langsung dengan areal alur lintas sandar kapal ke dermaga yang kemudian berhubungan dengan sisi alur lintas kapal yang lanjut ke daerah lampu satu.

Diperkirakan, penimbunan proyek tersebut menambah tingginya air laut saat pasang rob. Sebelumnya, pasang rob yang rendam ribuan rumah masyarakat Belawan sekitarnya merebak hingga ke Kelurahan Labuhan Deli dan Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.

Masyarakat luas sempat menuding pasang laut yang genangi perkampungan warga disebabkan maraknya penimbunan di wilayah resapan air, paluh, dan penimbunan laut yang dijadikan daratan.

Bahka warga menyebutkan selama ini daerah Kelurahan Paya Pasir, tidak pernah digenangi air pasang laut. Namun sekarang diterjang banjir pasang laut. Warga yang tidak mau disebutkan namanya dengan tegas mengatakan penimbunan proyek reklamasi perluasan pelabuhan berdampak bagi warga.

Mereka para warga mengkhawatirkan dampak lingkungan penimbunan proyek dapat menimbulkan dampak sosial khususnya pemukiman dan fasilitas umum.

Debit air laut akan makin tinggi di daerah tersebut dan akan menambah keluhan masyarakat luas khususnya Belawan.

Warga minta lokasi penimbunan meski untuk perluasan lapangan penumpukan dan tangki timbun agar memperhatikan seluruh aspek pengelolaan lingkungan.

Terkait banjir rob, ribuan nelayan yang terdampak dari reklamasi pembangunan dermaga peti kemas, bergabung pernah menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT Pelindo I, Kamis (12/09/2019).

Aksi tersebut dilakukan guna menuntut pihak Pelindo I untuk transparan dalam pemberian kompensasi tali asih yang telah mereka salurkan. Pasalnya, dana kompensasi tali asih yang diberikan diduga tidak tepat sasaran.

Para pendemo yang didominasi para kaum ibu dari Kota Medan dan Deli Serdang ini, datang dengan berjalan kaki dengan membawa berbagai poster tuntutan.

Wahyu Kurnia selaku Kordinator Aksi mengatakan, aksi yang digelar ini sebagai wujud kekecewaan mereka terhadap pihak Pelindo serta Pemko Medan, dalam penyaluran kompensasi dampak dari reklamasi.

Dalam aksi ini, mereka menuding apa yang dilakukan pihak Pelindo dan Pemko Medan dalam pendataan serta pemberian tali asih bagi nelayan tidak tepat sasaran.

Dengan pembuatan alur baru sebagai pengganti alur lama menjadi hambatan dan menambah cost atau biaya nelayan yang cukup tinggi.

Dikarenakan jauhnya jarak tempuh, ketika nelayan mengoperasionalkan sampan atau perahunya. Akibat perubahan alur yang dilakukan karena pembangunan dermaga peti kemas membuat biaya yang dikeluarkan para nelayan menjadi bertambah.

Hal ini juga membuat para nelayan semakin menjerit. Pihaknya menuntut agar, dilakukan verifikasi pendataan ulang para nelayan dan pemberian tali asih bagi para nelayan yang belum menerima.

Anehnya, malah yang tidak nelayan diduga mendapat tali asih. Ia mengatakan pihaknya akan melakukan aksi lebih besar bila tuntutan mereka tidak ditanggapi oleh pihak Pelindo.

“Kalau hari ini pihak Pelindo tak bisa memberikan solusi, kita akan membuat aksi yang lebih besar lagi dengan massa yang lebih banyak lagi,” tegasnya.

Namun tudingan tersebut dibantah Pelindo. Sementara itu, Maneger Umum Pelindo Khailrul Ulya mengatakan, aksi yang dilakukan para pengunjuk rasa adalah salah alamat.

Sebenarnya aksi ini salah alamat, seharusnya mereka menanyakan permasalahan ini ke Pemko Medan yang melakukan verifikasi. Kalau Pelindo hanya sebagai penyedia dana, ucapnya.

Khairul Ulya menegaskan, Pelindo tidak akan menyalurkan kembali dana tali asih kepada para nelayan. Pemko Medan yang sudah merekomendasikan sebanyak 3228 nelayan yang menerima dana tali asih dengan anggaran sebesar Rp10 miliar dan diserahkan secara seremoni oleh Walikota Medan beberapa.

Banjir rob berbuntut panjang. Beberapa warga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan pemberian dana tali asih sebagai kopensasi reklamasi patutu ditinjau kembali.

Salah satunya adalah keabsahan perizinan reklamasi yang sempat menjadi sorotan warga nelayan, khususnya warga terkena dampak banjir rob.

Hingga berita ini dilansir, Plt Walikota Medan belum dapat dikonfirmasi terkait rekomendasi sebanyak 3228 nelayan yang menerima dana tali asih yang dialokasikan Pelindo I sebesar Rp10 miliar. (KRO/RD/Alam Silalahi)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com