Dampak Seruan Boikot Produk Prancis ke Ekonomi RI

Image: Dampak Seruan Boikot Produk Prancis ke Ekonomi RI

RADARINDO.co.id-Jakarta:
Seruan boikot produk Prancis masih terus berlangsung di Indonesia. Padahal ada begitu banyak perusahaan afiliasi Prancis yang beroperasi di Indonesia. Begitu banyak pula pekerja Indonesia yang bergantung di perusahaan-perusahaan tersebut.

Beberapa pengamat meyakini aksi boikot produk Prancis di Indonesia tidak akan berdampak terlalu signifikan. Menurut Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, aksi boikot yang besar pengaruhnya biasanya adalah aksi boikot yang mendapat dukungan oleh institusi besar seperti negara atau swasta.

Dalam aksi boikot produk Prancis di Indonesia, tidak ada dukungan serupa dari institusi besar seperti negara dan swasta tadi. Demikian pula, aksi ini hanya dijalankan oleh sebagian lapisan masyarakat Indonesia saja sehingga diyakini tidak bakal membawa pengaruh signifikan.

“Betul bahwa Indonesia menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Presiden Perancis, namun Indonesia tidak pernah menyampaikan untuk melakukan pemboikotan terhadap produk asal Prancis (secara resmi). Sementara seruan boikot, juga hanya terjadi di sebagian elemen masyarakat, artinya tidak secara luas dilakukan oleh masyarakat Indonesia sehingga dampaknya ke perusahaan afiliasi Prancis di Indonesia juga tidak akan begitu signifikan,” paparnya.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa hubungan dagang RI-Prancis juga relatif kecil dibanding dengan negara lain yakni hanya sekitar 1% saja. Demikian pula dengan hubungan bilateral di bidang lainnya, Yusuf meyakini akan tetap terjadi dialog yang baik di antara keduanya.

Sedikit berbeda dari Yusuf, menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, dampak yang mungkin bakal dirasakan perusahaan Prancis dalam jangka waktu dekat ini adalah omset yang otomatis semakin tertekan.

Kondisi perusahaan afiliasi Prancis yang semakin tertekan secara tidak langsung nantinya juga akan mempengaruhi tenaga kerja lokal yang bekerja di sama. Bisa-bisa nantinya investor Prancis semakin menunda realisasi investasi di Indonesia.

Untuk meredam masalah ini, Bhima menyarankan kepada para investor dan perusahaan afiliasi Prancis untuk mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron mendinginkan situasi tersebut. Untuk hubungan bilateral lainnya, tambah Bhima, selama tidak ada seruan boikot resmi dari pemerintah Indonesia maka hubungan kedua negara akan baik-baik saja. (KRO/RD/Dtk)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com