Pandemi Tak Halangi Sumut Ekspor Sarang Walet dan Olahan Singkong

Image: Pandemi Tak Halangi Sumut Ekspor Sarang Walet dan Olahan Singkong

RADARINDO.co.id-Medan:
Kinerja ekspor Sumatera Utara (Sumut) tetap produktif di masa pandemi COVID-19. Satu ton sarang burung walet senilai Rp25 miliar asal Sumut diekspor ke enam negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Selain itu juga diekspor 20 ton produk olahan singkong senilai Rp1 miliar.

Ekspor komoditas itu dilepas Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga bersama Gubernur Sumut Edy Rahmayadi di Komplek MMTC, Jalan Willem Iskandar, Deli Serdang, Minggu (8/11/2020). Satu ton sarang burung walet diekspor PT Originalnest. Sedangkan 20 ton produk olahan singkong diekspor PT Alpha Gemilang Sejahtera (AGS).

Wamen Jerry Sambuaga berharap jumlah ekspor Sumut terus meningkat. Pihaknya terus mendorong para pelaku usaha untuk mengekspor produk olahan. Hal ini karena produk akan memiliki nilai tambah apabila diolah dan siap dikonsumsi. Misalnya sarang burung walet (SBW) akan punya nilai tambah jika diolah menjadi produk siap saji dan konsumsi.

Dikatakan Jerry, nilai ekspor Indonesia lebih tinggi ketimbang impor. Per 7 November 2020 total nilai ekspor Indonesia mencapai 13,51 miliar dolar AS. Sumut adalah salah satu daerah penyumbang produk ekspor yang besar. Wamen berharap pemerintah daerah terus mengoptimalkan potensi daerahnya menjadi komoditas ekspor. Sarang burung walet adalah contoh komoditas asli Indonesia yang memiliki potensi luar biasa.

Untuk diketahui, berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumut periode Januari-Oktober 2020, nilai ekspor yang dilepas kedua perusahaan tersebut terus meningkat.

Nilai ekspor eksportir sarang burung walet PT Originalnest mencapai 39,5 juta dolar AS atau naik 10% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 35,4 juta dolar AS. Sementara nilai ekspor produk berbasis singkong atau ubi yang diekspor PT Alpha Gemilang Sejahtera sebesar 235 ribu dolar AS. Angka ini naik 21% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 186 ribu dolar AS.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengapresiasi pelaku usaha yang masih produktif dan tetap melakukan ekspor di masa pandemi. “Saya apresiasi ini, pelaku usaha bisa meningkatkan ekspornya walaupun di dalam kondisi pandemi ini,” kata Edy.

Edy mengungkapkan dirinya pernah membeli sarang burung walet namun tidak tahu cara mengolahnya. Untuk itu dia mendorong pelaku usaha agar menghasilkan produk siap konsumsi sehingga permintaan produk terus meningkat.

Selain itu, Edy mengajak semua pihakbersama-sama membangun Sumut, khususnya dalam bidang perekonomian. Menurut dua potensi Sumut yang besar harus dioptimalkan. Sementara itu, Direktur PT Alpha Gemilang Sejahtera (AGS) Ujiana Sianturi mengatakan produk berbasis singkong yang diekspor perusahannya kali ini berupa keripik dan opak singkong dengan negara tujuam Korea Selatan. Meski pandemi, lanjut dia, permintaan produk singkong terus meningkat.

“Dilepaskan di masa COVID-19 malah tidak turun, malah naik. Mungkin karena orang ingin makan camilan. Di Korea Selatan, singkong lah pilihan camilannya, trennya naik terus,” kata Ujiana.

Hal senada dikatakan pemilik PT Originalnest Rusiana yang mengatakan permintaan sarang burung walet meningkat di masa pandemi. Secara keseluruhan, ekspor naik 15–20%. Rusiana memprediksi perusahaannya bisa mengekspor 32 ton hingga akhir tahun. (KRO/RD/Sariagri)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com