Mengenal PCOS, Gangguan Hormon Yang Sebabkan Wanita Sulit Hamil

Image: Mengenal PCOS, Gangguan Hormon Yang Sebabkan Wanita Sulit Hamil

RADARINDO.co.id-Health:
Beberapa waktu belakangan ini, sejumlah wanita pada laman media sosial tampak sering membagikan pengalaman mengenai perubahan yang terjadi pada tubuh mereka.

Ada yang membagikan mengenai masalah siklus menstruasi yang tidak teratur, munculnya rambut yang berlebihan pada tubuh serta timbulnya jerawat dalam jumlah banyak, berat badan yang mudah naik, gangguan psikologis, bahkan sulit hamil.

PCOS (Polycistic Ovarian Syndrome) atau sindrom ovarium polikistik adalah suatu keadaan endokrinopati atau gangguan hormonal di mana seorang perempuan mengalami gangguan produksi dan metabolisme androgen. PCOS merupakan salah satu gangguan endokrin yang paling umum terjadi pada perempuan usia reproduktif.

Pada penderita PCOS kondisi tubuh wanita mengalami hormonal imbalance atau ketidakseimbangan hormon. Pada wanita yang menderita PCOS, produksi hormon androgen lebih dominan dibandingkan dengan estrogen. Tetapi, PCOS bukan termasuk dalam kategori penyakit melainkan lebih kepada kumpulan gejala dari beberapa hal.

Menurut Departemen Kesehatan Amerika Serikat, PCOS menyebabkan adanya pembentukan kista di ovarium sehingga sel telur susah matang atau dilepaskan saat sudah waktunya, hal ini yang menyebabkan wanita sulit hamil. Menurut dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, prevalensi wanita yang menderita PCOS mengalami peningkatan.

Dalam jurnal tahun 90an kasus wanita yang mengalami PCOS sekitar 4-6%. Kemudian pada penelitian yang dilakukan disurabaya, tahun 2007, menemukan hasil 4,5%. Sedangkan pada penelitian lain ditemukan sekitar 8-12%.

Bahkan pada penelitian lain mengklaim bahwa pada wanita usia reproduktif sebanyak 12-20% menderita PCOS (1). Meningkatnya prevalensi wanita yang menderita PCOS ini dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Belakangan ini, masyarakat pada umumnya cenderung memiliki pola makan yang tidak seimbang dan mengkonsumsi asupan kalori yang berlebih.

Hal ini tidak diimbangi dengan gerak atau olahraga rutin sehingga mengakibatkan tubuh menjadi kegemukan atau obesitas. Kegemukan atau obesitas ini dapat memicu penurunan kerja sel tubuh terhadap insulin dan pankreas memproduksi insulin lebih banyak sehingga tubuh mengalami resistensi insulin.

Tingginya kadar insulin dalam darah pada tubuh wanita dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan folikel. Kondisi ini yang dapat menghalangi proses pengeluaran sel telur yang mengakibatkan gangguan pada kesuburan atau infertilitas.

Terdapat tiga gejala PCOS yang setidaknya ada, yaitu menstruasi yang tidak teratur dan tingginya kadar hormon pria atau hormon androgen pada tubuh wanita. Padahal androgen merupakan hormon yang umumnya dimiliki oleh laki-laki.

Sehingga akibat tingginya kadar androgen pada tubuh wanita akan menghadapi sejumlah gejala seperti hirsutisme atau pertumbuhan rambut berlebih pada wanita di area yang umumnya tumbuh rambut pada pria, gangguan psikologis, menstruasi yang tidak teratur, binge eating syndrome.

Untuk menegakkan diagnosis para ahli di Indonesia menggukan Rotterdam Criteria. Ada tiga kriteria yang terlihat pada wanita dengan PCOS yaitu gangguan menstruasi oligomenorrhea/amenorrhea, hyperandrogenisme, serta adanya sel telur kecil berbentuk seperti roda pedati yang terlihat saat menggunakan USG transvaginal.

Seorang wanita dapat di diagnosis PCOS apabila sudah tampak dua dari tiga kriteria. Jika Anda sudah menyadari gejala PCOS, seorang wanita harus segera memeriksakan dirinya ke dokter guna memperoleh penanganan yang tepat. Karena pengobatan PCOS sangat memerlukan ketelatenan dan kedisiplinan. Penanganan dan Pencegahan PCOS Dalam penanganan PCOS kuncinya adalah menerapkan lifesyle atau gaya hidup yang lebih sehat.

Untuk pengobatan lini pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan berat badan bagi tipe obesitas sebanyak 10% dari berat badan awal dan juga menjaga pola makan. Selanjutnya, melakukan olahraga rutin.

Dengan cara sederhana saja bisa membuat regulasi menstruasi teratur serta meningkatkan kesuburan. Kelainan PCOS ini memang tidak sembuh sepenuhnya, karena itu menjadi semacam lokus minoris perempuan. Namun dapat dikendalikan. Selain itu, ada pula upaya pengobatan melalui pemberian sejumlah obat yang sesuaikan dengan keluhan.

Apabila PCOS terdeteksi sejak dini pada perempuan berusia remaja, maka dokter akan memberikan obat yang memiliki fungsi mengatur menstruasi. Obat yang diberikan biasanya metformin dan pil kb. Pengobatan metformin dianjurkan bagi PCOS tipe obesitas untuk mengobati resistensi insulin.

Sementara pil kb diberikan kepada PCOS tipe slim yang berguna menurunkan hormon LH (Luteinizing Hormone). Pemberian obat biasanya dilakukan selama empat sampai enam bulan sekaligus mengamati kondisi tubuh. Dahulu, masyarakat maupun apoteker sering salah kaprah terkait fungsi kedua obat itu.

Butuh perjuangan khusus untuk menjelaskannya. Tetapi sekarang sudah paham. Karena jika tidak dilakukan justru dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya. Penulis buku seri Panduan Kesehatan Reproduksi Wanita menambahkan, dalam perjalanannya, PCOS dapat menjadi masalah jangka panjang bila tidak segera ditangani.

Antara lain dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, dyslipidemia, keganasan pada endometrium (hyperplasia), dan payudara (kanker/tumor). (KRO/RD/Wpd)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com