Pemerhati Nelayan : Usut Kasus Tragis Boat Pukat Teri Tabrak Boat Jaring

Image: Pemerhati Nelayan : Usut Kasus Tragis Boat Pukat Teri Tabrak Boat Jaring

RADARINDO.co.id-Belawan: Pasca tabrakan boat ikan, antara kapal boat pukat teri, KM Deli Jaya milik salah seorang pengusaha gudang perikanan di Gabion Belawan dengan kapal boat ikan jaring gembung milik warga Langkat, ternyata menjadi perhatian serius bagi pemerhati nelayan di Belawan.

Pasalnya, kedua boat yang mengalami insiden bertabrakan di perairan pantai Barat persis di Perairan Boring Pangkalan Brandan Langkat itu terkesan kasusnya semakin tidak jelas bagi masyarakat.

Dari keterangan saksi yang selamat, Irfan Oom dan Abdulah, dikatakan bahwa mereka mencari ikan gembung berjarak 1 mil dari pantai Perairan Boring Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat. Sementara kapal boat ikan Pukat Teri KM Deli Jaya yang punya 23 Anak Buah Kapal (ABK) itu melintasi Perairan Boring, Pangkalan Berandan yang sebenarnya bukan zona penangkapan ikan kapal boat di atas 30 GT.

Tiba-tiba kapal boat Pukat Teri itu sudah menuju arah sampan boat jaring gembung dengan 4 ABK yang dari jarak jauh sudah memberikan isyarat atau tanda-tanda agar jangan ke arah boat jaring gembung.

Namun isyarat itu tidak dipedulikan oleh Tekong Pukat Reri KM Deli Jaya, sehingga tabrakan pun tak bisa dihindari lagi.

Spontan para nelayan jaring gembong pun melompat ke laut. Peristiwa tragis tabrakan kedua kapal boat tersebut, upaya menolong nelayan yang terapung-apung pun segera dilakukan dan dinaikkan ke atas kapal pukat Teri.

2 orang korban sempat tertolong dan selamat, sedangkan 1 orang sudah merenggang nyawa, dan 1 orang lagi hilang (hanyut).

Selanjutnya kapal pukat Teri mengevakuasi yang selamat ke Belawan dan yang meninggal diantar ke pihak keluarga di Langkat.

Terkait insiden tersebut, terjadi pembahasan bagi pemerhati nelayan Sumatera Utara (Sumut), di antaranya Forum Masyarakat Nelayan Selat Malaka, yang diketuai oleh Alfian MY dan Ketua HNSI Kota Medan, yang akrab disapa Atan.

Kedua elemen penggiat pemerhati nelayan tersebut menyikapinya dengan serius dan meminta petugas dan pihak-pihak yang terkait agar secepatnya mengusut dan menuntaskan kasus (permasalahan) yang muncul pasca tragedi tabrakan kedua kapal boat ikan yang memakan korban jiwa itu.

Disebutkan lagi oleh Alfian M.Y, kepada awak media, Kamis (5/11/2020) kemarin, bahwa kapal pukat teri dengan GT 30 lebih itu sudah menyalahi wilayah pencarian ikan yaitu 1 mil dari pantai.

Itu wilayah nelayan yang berukuran kecil. Atas peristiwa itu, Alfian MY meminta Dirpolairud Polda Sumut agar mengusut tuntas, dan menangkap tekong kapal pukat teri KM Deli Jaya itu.

Begitu juga pihak DPC HNSI Kota Medan, Atan mengatakan, “HNSI Kota Medan siap mendampingi keluarga korban dan nelayan jaring gembung untuk meminta pertanggungjawaban pemilik boat pukat teri KM Deli Jaya milik pengusaha gudang perikanan Gabion Belawan itu, serta perkara ini agar diusut tuntas.” Kata Ketua HNSI DPC Kota Medan, Bung Atan.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi kepada pihak Dirpolairud Polda Sumut, Kasubditgakkum, Kompol. P.G. Silaban membenarkan peristiwa itu dan masih dalam pengusutan.

Jumlah nelayan jaring gembong berjumlah 4 orang, di antaranya, Asfan (45), Tekong, selamat, Abdullah (30), ABK, selamat, M.Johan (25), hilang dan masih dalam pencarian, Aspan (40) ABK, meninggal dunia.” Jelas Silaban. (KRO/RD/ Ganden)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com