Kuburan Belanda Masuk Usulan Registrasi Cagar Budaya Nasional

Image: Kuburan Belanda Masuk Usulan Registrasi Cagar Budaya Nasional

RADARINDO.co.id-Aceh:
Kuburan Belanda di Aceh Singkil menjadi bukti dan saksi dalam sejarah bahwa Singkil merupakan salah satu daerah makmur yang sempat menjadi sasaran jajahan pihak asing. Saat ini, kuburan yang dikabarkan dulunya merupakan pegawai perkebunan dan prajurit tentara Belanda itu, akan dilakukan pemugaran oleh Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Aceh. Lantaran kuburan tersebut merupakan salah satu situs cagar budaya daerah yang diusulkan untuk menjadi situs cagar budaya nasional.

Kepala Seksi (Kasi) Cagar Budaya Disdikbud Aceh Singkil Maya Seroja, kepada Waspada.id, Selasa (13/10) mengatakan, ada sekitar 28 makam Belanda yang berlokasi di Simpang Pertigaan, Dusun Pendidikan, Desa Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil.

Informasi yang diperoleh, kuburan tersebut merupakan pegawai perkebunan di masa zaman Belanda yang masuk ke Aceh Singkil. Namun ada pula yang menyebutkan merupakan kuburan para tentara Belanda di masa penjajahan. Sejak tahun 1861, para kolonial Belanda dalam sejarah tercatat telah mendiami Singkil Lama yang merupakan Kota Singkil pertama di masa kejayaannya. Daerah ini dulunya juga merupakan pusat kerajaan yang pengembangan dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dan pusat perdagangan terbesar.

Namun sejak gempa tektonik, Kota Singkil Lama hancur dihantam gempa tektonik dan galoro (gelombang laut dahsyat) pada 12 Februari 1861. Lantas mereka meninggalkan kawasan pesisir Singkil Lama tersebut dan mendiami daratan Singkil yang saat ini menunjukkan bukti adanya kuburan yang bertuliskan berbahasa Belanda di batu-batu nisan makam tersebut.

Disebutkannya, sejak 2015 hingga 2016, Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Aceh Singkil. Lalu di tahun 2017, Bidang Kebudayaan beralih ke Dinas Pendidikan mengikuti nomenklatur di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kemudian tahun 2019, Bidang Kebudayaan (Disdikbud) di masa Kabid M Najur telah melakukan perawatan terhadap situs kuburan Belanda tersebut dengan menempatkan Jupel. Saat ini melalui anggaran APBA Disdikbudpar Aceh telah mengeluarkan SK juru pelihara (Jupel) untuk menjaga kebersihan kawasan makam yang sudah terpagar besi tersebut.

Katanya, saat ini Bidang Kebudayaan Disdikbud Aceh Singkil sedang melakukan pendataan/registrasi agar situs kuburan Belanda dan situs-situs cagar budaya lainnya diajukan sebagai cagar budaya nasional. Disdikbud terus berupaya untuk melakukan penelitian agar 21 situs cagar budaya bisa lolos verifikasi masuk dalam situs cagar budaya nasional.

Tinggal menunggu tim ahli untuk melakukan pengkajian. Setelah itu mereka yang menetapkan layak atau tidaknya menjadi situs cagar budaya nasional. Meski demikian, 21 situs tersebut sudah masuk data secara nasional. Ada 21 situs cagar budaya daerah dan sudah tercatat dalam sistem registrasi Cagar Budaya Nasional serta pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah (PPKD). “Kosentrasi bidang kebudayaan saat ini adalah pembenahan data kebudayaan agar seluruhnya tersusun dan terdata dengan baik,” ucapnya.

Disebutkannya, saat ini sudah empat situs cagar budaya ditempatkan juru pelihara (Jupel) sebagai penjaga dan merawat situs, yang dibiayai APBA. Baik warian budaya berbentuk benda dan tak benda sudah terangkum seluruhnya dalam PPKD, ujarnya Selebihnya belasan situs cagar budaya lainnya sedang pengusulan untuk penempatan Jupel tersebut melalui pembiayaan APBK Aceh Singkil.

Di samping pendataan, Kabid Kebudayaan juga telah membuat inisiasi melengkapi dokumentasi beberapa situs cagar budaya daerah dengan video dokumenter. Sehingga usulan pemugaran makam serta seluruh situs lainnya dapat terealisasi menjadi cagar budaya nasional dan bisa lebih diperhatikan.

Sehingga sejarah perjuangan dan kejayaan Aceh Singkil dari masa kemasa bisa tetap dikenang oleh anak cucu mendatang, sebut Seroja.

Ke-21 situs cagar budaya Aceh Singkil itu meliputi,
1. Makam Datuk Nyak Unggah Desa Pea Bumbung Singkil.
2. Makam Aulia Tampat Desa Gosong Telaga Kec. Singkil Utara
3. Sumur bor Belanda Desa Pasar Kec. Singkil
4. Rumah Datuk Abdul Rauf Desa Ujung Kec. Singkil
5. Meriam Sipoli Desa Bulu Sema Kec. Suro.
6. Nisan-Nisa Tua di Desa Rimo Kec. Gunung Meriah
7. Rumah Kantor Peninggalan Belanda Desa Pasar Kec. Singkil
8. Masjid Baiturrahim Desa Pasar Singkil
9. Masjid Ubudiyah Tanjung Mas Desa Tanjung Mas Kec. Simpang Kanan
10. Makam Syekh Abdul Razak Desa Kilangan/Singkil Lama Kec. Singkil
11. Komplek Kuburan Belanda Desa Pulo Sarok.
12. Tongkat Syekh Abdurauf As Singkily Desa Silatong Kec. Simpang Kanan
13. Makam Syekh Ali Al-Fansyuri (Ayahanda Syekh Abdurauf As Singkily) Desa Tanjung Mas
14. Makam Ibunda Syekh Abdurauf As Singkily Desa Tanjung Mas
15. Pertapakan lampu Babeleng Desa Desa Pulo Sarok
16. Struktur penampungan air Desa Pulo Saroj
17. Koin VOC tahun 1790 Desa Kilangan Singkil
18. Al Qur’an Tulisan Tangan Syekh Abdurauf Desa Silatong
19. Makam Kuno Tanjung Mas Kec. Simpang Kanan
20. Singkil Lama, Kecamatan Singkil Kawasan Hutan Lindung
21. Makam Syekh Aminuddin (saudara kandung Syekh Abdurauf As Singkily) Desa Tanjung Mas. (KRO/RD/Waspada)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com