Terkait Ambruknya Jembatan Nasional Eho, Ini Penjelasan PPK 36 BBPJN

Image: Terkait Ambruknya Jembatan Nasional Eho, Ini Penjelasan PPK 36 BBPJN

RADARINDO.co.id-Nisel: Terkait ambruknya jembatan Nasional sungai Eho yang berada di desa Sifaoroasi Kecamatan Amandraya Kabupaten Nias Selatan beberapa waktu lalu hingga saat ini masih belum rampung jembatan daruratnya, PPK 36 balai besar pelaksana jalan nasional (BBPJN) wilayah II Sumut untuk jalan dan jembatan wilayah Telukdalam-Lolowa’u, dimana beberapa waktu lalu Bupati Nias Selatan, Hilarius Duha, sempat meninjau jembatan tersebut.

PPK 36 untuk jalan dan jembatan wilayah Telukdalam-Lolowa’u, Parsaoran Samosir, mengatakan bahwa belum terlaksananya pembangunan jembatan darurat diwilayah itu disebabkan oleh beberapa faktor.

Beberapa faktor yang dimaksud, Parsaoran Samosir, diantaranya Covid-19 apalagi dengan adanya surat edaran Gubernur Sumut beberapa waktu lalu, sehingga para tenaga teknis agak susah ke Nias, berikutnya terkait cuaca (curah hujan yang tinggi) yang sudah beberapa hari ini terjadi dan terkahir mengenai alat yang mesti harus didatangkan dari Medan.

Parsaoran Samosir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membuat jembatan penyeberangan orang, namun akibat curah hujan yang tinggi sehingga beberapa bagian dari jembatan darurat itu rusak diterjang banjir.

“Kita sudah buat jembatan bagi pejalan kaki, hanya saja akibat curah hujan yang tinggi mengakibatkan beberapa bagian dari jembatan itu rusak diterjang banjir,” ungkap Parsaoran Samosir saat kepada sejumlah wartawan di kantor PUPR Nias Selatan, Kamis (08/10/2020).

Parsaoran Samosir, membeberkan bahwa pihaknya berencana akan melakukan pengecoran pada pondasi jembatan darurat disisi kiri jembatan saat ini untuk bisa dilalui kendaraan roda empat, namun akibat curah hujan yang tinggi dan ditambah lagi kelangkaan semen di Nias Selatan juga termasuk kendala pengerjaannya.

“Sekarang kita mau melakukan pengecoran pondasi jembatan itu, agar jembatan bellinya bisa dipindahkan sehingga dapat dilalui roda empat, namun semen di Nias Selatan tidak ada. Ditambah curah hujan beberapa hari ini yang menyebabkan banjir. Jadi itulah beberapa yang menjadi kendala,” ujar Parsaoran Samosir.

Untuk mengerjakan jembatan itu, tutur Parsaoran Samosir, harus dilakukan secara teknis, beberapa tenaga teknis dalam pengerjaan jembatan darurat itu dalam perjalanan menuju Nias. Karena sebelumnya mereka harus menjalani swab dulu untuk sampai ke Nias.

Selain itu, Parsaoran Samosir, mengatakan bahwa usai dilakukannya pengecoran pondasi darurat itu maka harus ditunggu sampai 21 hari lamanya baru bisa dipindahkan jembatan bellinya. Itu pun, tambahnya harus menggunakan alat berat seperti crain.

“Alat crain di Nias Selatan kan tidak ada, jadi mesti harus kita datangkan dari Medan,” kata Parsaoran Samosir.

Banyak pihak yang menyebutkan bahwa jembatan itu dikerjakan oleh Pemda Nias Selatan karena hal itu berada di wilayah Nias Selatan, apalagi beberapa waktu lalu jembatan Eho atau yang sering disebut jembatan titik gantung, telah ditinjau oleh Bupati Halirius Duha, sebelum cuti karena ikut Pilkada 2020.

Terkait penanganan jembatan tersebut, Parsaoran Samosir, bahwa hal itu dikerjakan oleh Kementerian PUPR melalui BBPJN Wilayah II Medan. Pemkab Nias Selatan adalah sebagai pemilik wilayah, dalam pelaksanaannya memiliki jalin koordinasi dalam mendukung pembangunan itu.

Untuk pengerjaan pembangunan jembatan Eho ini, Parsaoran Samosir, menyampaikan beberapa kerangka kerja PPK BBPJN wilayah Sumut II pada pengerjaan jembatan Eho (titik gantung) yakni tahap awal akan didirikan jembatan darurat (menggunakan jembatan lama) disamping jembatan saat ini.

Berikutnya adalah tahun 2021 jembatan Eho tersebut akan dibangun secara permanen karena hal telah dianggarkan (Kementerian).

“Secara konstruksi tahun depan jembatan itu akan selesai. Mungkin sekitar bulan Maret 2021 kontraknya sudah berjalan,” pungkas Samosir.

Kadis PUPR Nias Selatan, Erwinus Laia, menyampaikan bahwa tidak semua ruas jalan yang ada di wilayah Kabupaten Nias Selatan itu dikerjakan oleh Pemda Nias Selatan.

“Perlu kita ketahui bahwa ada 3 ruas jalan yang ada di Nias Selatan, yakni Jalan Nasional, Jalan Provinsi dan Kabupaten. Jembatan Eho itu termasuk ruas jalan Nasional, makanya kita terus dorong Kementerian melalui PPK 36 untuk mengerjakan jembatan tersebut,” ujar Erwinus Laia.

Dikesempatan itu juga, Erwinus Laia, meminta kepada BBPJN melalui PPK 36 jalan dan jembatan wilayah Telukdalam-Lolowa’u agar dapat membangun baskem tempat alat-alat berat di Nias atau di Nias Selatan agar kedepan bila terjadi hal-hal seperti ini dapat dimanfaatkan dan membantu, sehingga tidak didatangkan lagi dari luar Nias. (KR/RD/RISWAN GOWASA)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com