Praktik Berbahaya, Perempuan Tidak Membutuhkan Sunat

Image: Praktik Berbahaya, Perempuan Tidak Membutuhkan Sunat

RADARINDO.co.id-Jakarta:
Tidak seperti laki-laki, perempuan tidak membutuhkan sunat atau khitan. Selain melanggar hak dasar perempuan baik dari kajian medis maupun agama, praktik Perempuan Genital Mutilasi / Pemotongan (FGM) atau Pemotongan / Perlukaan Genital perempuan (P2GP) atau biasa disebut sunat perempuan tidak memiliki manfaat bahkan justru ada bagi perempuan.

“P2GP atau sunat perempuan merupakan praktik berbahaya yang ditujukan kepada perempuan dan anak perempuan yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan hingga krisis dan trauma. P2GP melanggar hak dasar perempuan untuk mendapatkan kesehatan, integritas tubuh, serta bebas dari diskriminasi dan perlakuan kejam atau upaya merendahkan martabat, ”ujar Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Kemen PPPA ), Indra Gunawan.

Dalam Webinar ‘Pencegahan FGM / C atau Perlukaan / Pemotongan Genitalia Perempuan (P2GP)’ yang diselenggarakan Kemen PPPA melalui berani (14/9) Indra menuturkan pemerintah komitmen untuk menghapuskan segala bentuk praktik yang berbahaya seperti pernikahan usia anak dan sunat perempuan yang masuk ke dalam salah satu target agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) hingga tahun 2030. Oleh karena itu, Kemen PPPA mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama praktik sunat pada perempuan.

“Kemen PPPA telah memiliki Roadmap dan rencana strategis pencegahan sunat perempuan dengan target menuju tahun 2030, dan kita sangat berharap seluruh anak-anak perempuan dan perempuan di Indonesia terlindungi dari praktik-praktik berbahaya seperti perkawinan anak dan sunat perempuan,” tutur Indra.

Mengulas dari segi medis, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Muhammad Fadli secara tegas menuturkan jika perempuan tidak membutuhkan sunat, berbeda dengan laki-laki. 

“Alhamdulillah organ genital perempuan itu terlahir sudah optimal atau sempurna. Berbeda dengan laki-laki yang memang harus di sunat terutama dari sisi medis untuk menghindari masalah kesehatan di kemudian hari. Sunat pada laki-laki memang memiliki SOP dan praktiknya seragam. Khitan pada perempuan itu tidak memiliki SOP dan tidak ada yang seragam di berbagai daerah. Oleh karena itu praktiknya tidak boleh dilakukan, ”ujar Dokter Fadli yang juga digunakan sebagai Sekretaris Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Komisariat Jakarta Selatan.
Dokter Fadli menjelaskan jika praktik sunat perempuan sangat berbahaya karena tindakan secara sengaja yang dilakukan untuk mengubah atau mencederai organ perempuan tanpa indikasi medis. Hal ini benar-benar dapat menimbulkan masalah kesehatan hingga komplikasi maupun jangka panjang.

“Khitan atau sunat pada perempuan secara medis tidak memiliki dampak yang positif atau manfaat bahkan tindakan sunat perempuan ini memiliki dampak atau dampak yang berat berupa akut maupun kronis. Tampaknya luar biasa bisa terjadi infeksi, pendarahan, sulit buang air kecil, infeksi, infeksi saluran kemih, bahkan hingga kematian. Efeknya untuk perempuan dewasa maupun anak-anak sama saja, ”jelas Dokter Fadli.

Sedangkan menelaah dari sisi agama khususnya Agama Islam, KH. Faqihuddin Abdul Kodir dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) menjelaskan jika saat ini hampir semua fatwa-fatwa besar ulama dunia telah mengharamkan praktik sunat pada perempuan. Fatwa terbaru bahkan telah dikeluarkan oleh Lembaga Fatwa Mesir dan Universitas Al-Azhar di Mesir pada Februari 2020 setelah terdapat kasus anak perempuan yang meninggal setelah disunat pada Januari 2020. Sebelumnya, Mesir pertama kali lipat sunat perempuan pada tahun 2008.

“Fatwa itu terang benderang dan dengan argumentasi kuat pernyataan khitan perempuan bukan bagian dari syariah karena Hadist dan Qur’annya tidak tegas. Itu (sunat perempuan) bagian dari kebiasaan atau tradisi yang penjelasannya harus dikembalikan kepada yang berkompeten yaitu kedokteran. Medislah yang akan bilang khitan perempuan itu baik atau tidak, dan berkali-kali pertemuan seluruh ahli medis mengatakan perempuan tidak ada manfaatnya bahkan bisa diberlakukan, ”jelas Kiai Faqih. (KRO/RD/ANo)

www.radarindo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com