Wanita Kenakan Hijab Pasti Lebih Cantik Pria Menyukai

Wanita Kenakan Hijab Pasti Lebih Cantik Pria Menyukai

RADARINDO.co.id-Medan:
Wanita atau gadis yang mengenakan hijab pasti lebih cantik dipandang. Bahkan kalangan pria sangat menyukai dibandingkan wanita yang berpakaian biasa apalagi menperlihatkan salah satu bagian lekuk tubuh.
Terbuka memang saja menggiurkan kaum pria namun belum tentu di sukai.

Salah satu tulisan menarik tentang “Word Hijab Day” karya Irawan Oemar. Menceritakan suatu kisah seseorang, sungguh menarik, beragam wawasan dan mendapat hidayah, ilmu yang mendidik (education) yang mencerdaskan umat. Ketika pada 1 Februari ternyata dijadikan “Word Hijab Day”.

Ada sekelompok orang busuk hati yang justru membuat challenge “No Hijab Day”. Selain mengajak Muslimah melepas hijab, dalam flyernya challenge itu pun mengajak untuk membuat testimonial bagaimana pengalaman ketika memutuskan untuk melepas hijab. Hmm…, ajakan sesat. Saya jadi pengen sebaliknya menceritakan pengalaman saya berhijab. Sudah lewat sehari dari World Hijab Day, tulisan ini memang baru sempat dibuat sekarang.

Gapapalah, tanggal cantik juga kan? By the way, tulisan ini bakalan panjaaang dan luamaaa…, kalau tidak suka, silakan lewatkan saja.

“Saya berhijab pertama kali tahun 1991, bulan April, lupa tanggalnya, yang jelas minggu pertama April, sekaligus pekan terakhir bulan Ramadhan tahun itu. Waktu itu saya masih kuliah di ITS. Keputusan “nekad”. Karena di tahun itu pakai jilbab belum terlalu populer dan masih banyak kendala dalam mencari pekerjaan, hendak memakai jilbab sebenarnya sudah sebulan sebelumnya. Kenapa saya ingin berjilbab?

Saya justru agak “alergi” menghadiri majelis taklim di kampus, karena harus pakai busana Muslimah. Padahal saya tak punya baju lengan panjang, rok panjang (saya suka pakai rok span waktu itu, maklum, badan saya dulu langsing banget) apalagi kerudung/jilbab.

Novi gadis asal Papua, punya koleksi buku bacaan banyak sekali yang tinggal di lantai 3 asrama, menitipkan seluruh koleksi bukunya di kamar saya. Alasannya, ada banyak teman yang ingin pinjam dan baca buku-bukunya, tapi dia sering tak ada di tempat, apalagi kamarnya di lantai 3, kadang bikin orang malas naik. Koleksi buku-bukunya sudah diberi kartu dan amplop yang di tempel di bagian belakang, mirip koleksi buku di perpustakaan.
Novi melihat jadwal kuliah saya lebih longgar, jadi saya punya banyak waktu untuk mengadministrasikan bukunya. Oke, tentu saja saya yang hobby membaca menerima “tugas” itu dengan senang hati. Jadilah hari-hari saya dihabiskan untuk membaca buku-buku Novi.

Koleksi bukunya hampir 100 persen buku tentang agama Islam. Sejak semula saya sudah “menghindari” buku yang judulnya saja mengajak kaum Muslimah berhijab. Nah begitu saya menolak kewajiban berhijab bagi Muslimah.
Sampai akhirnya saya baca buku “Kuliah Tauhid” karangan Imaduddin Abdurrohim. Buku itu mulai mengusik nurani saya, memaksa saya merenungkan kembali “keimanan” dan kepatuhan saya kepada Allah SWT. Saya seperti digugat oleh kesadaran sendiri, beneran nih kamu “menuhankan” Allah ataukah kamu menuhankan masa depanmu? Hati saya mulai galau. Eh, jangan salah, di buku itu sama sekali tak ada satu Sub Bab pun yang membahas soal hijab lho.

Hanya membahas soal bagaimana “men-Tauhid-kan” Allah. Selesai membaca buku itu, saya ambil sebuah buku yang tak terlalu tebal, judulnya “Kepada Anakku, Dekati Tuhanmu”, kalau tak salah itu saduran atau terjemahan bebas dari salah satu tulisan Hasan al Banna, bagian belakangnya mengutip nasihat dari Imam Al Ghazali. Di buku itu seingat saya digambarkan bahwa hidup manusia ini jika diibaratkan perjalanan, dibagi dalam 3 halte pemberhentian. Halte pertama ketika usia 20 tahun, halte kedua ketika usia 40 tahun dan halte terakhir ketika usia 60 tahun.

Usia 20 tahun adalah titik balik ketika seseorang menjadi dewasa. Usia 0 – 20 tahun katakanlah “nakal”, maka alangkah baiknya jika berhenti di halte pertama dan memperbaiki diri. Jika belum, masih ada halte kedua, ketika usia mencapai 40 tahun. Saat itulah semestinya orang mulai bertobat, sebab hanya tersisa 1 halte terakhir, yaitu di usia 60 tahun, karena usia ummat Muhammad SAW di kisaran 60 an tahun.

Jika sudah 2 per 3 umurmu berlalu sementara maksiatmu masih lebih banyak dari pada amal baikmu, maka sama artinya kau membuka pintu ke neraka.

Membahas kewajiban berhijab bagi Muslimah. Buku yang justru sejak awal saya singkirkan, kali ini saya baca dengan mindset yang sudah mulai berubah. Merenungkan kembali ketaatan saya kepada Allah, kerelaan saya mengikuti apa yang Allah perintahkan. Sering air mata saya mengalir, membayangkan betapa saya ini “sombong”, tidak mau tunduk pada Sang Khaliq, Pencipta saya. Saya sok tahu dengan rizki saya ke depan – takut sulit mendapatkan pekerjaan – padahal Allah lah yang menjamin rizki saya.

Akhirnya bulat sudah tekad saya untuk segera berhijab. Saya sampaikan keinginan saya itu kepada teman se-asrama yang memang sudah berhijab rapi. Hati sudah ingin menutup aurat. Ya beli dong! Eh, bagaimana mau beli, saya waktu itu mahasiswa miskin banget. Boro-boro investasi baju baru, beli buku teks saja gak mampu, cuma bisa foto kopi, itupun kadang dicicil, sebab demi sebab.

Diluar dugaan, teman saya itu mengajak saya ke salah satu rumah kost khusus Muslimah yang sudah hijrah, disana ada satu box busana Muslimah yang siap diberikan kepada siapapun yang berniat hijrah tapi belum punya sarananya. Iya, baju-baju bekas pakai. Masih layak pakai sih, meski sebagian kelihatan banget kalau sudah lusuh. Saya mendapat 3 stel busana Muslimah. Apa saya gengsi menerimanya? Tidak! Keinginan kuat untuk berhijab, membuat saya merasa menerima baju bekas bukanlah suatu kehinaan. Apalagi tujuannya untuk menutup aurat sesuai perintah Allah.

Lalu, selama bulan Ramadhan itu entah dari mana ceritanya – kebetulan di kampus selalu ada bazar Ramadhan – ada teman-teman yang membelikan jilbab baru untuk saya. Jilbab dimasa itu hanya ada 1 model, segi empat, umumnya warna polos, tanpa motif. Nah, terkumpullah sudah 3 stel baju bekas dan 3 lembar jilbab. Tapi, untuk memakainya saya masih menunda sampai tiba waktunya saya pulang kampung libur lebaran, sebab saya ingin bicara dulu dengan Ibu saya.

Ini langkah sulit, sebab sebagai anak pertama yang sudah yatim sejak SD dan ibu saya memilih jadi single parent, jelas saya sangat diharapkan bisa segera bekerja selepas kuliah. Sementara, pada masa itu, perempuan berjilbab justru banyak ditolak bekerja dimana-mana.

Alhamdulillah, ibu saya tidak melarang setelah saya yakinkan bahwa rizki itu sepenuhnya Allah yang menjamin. Maka, resmilah saya memakai jilbab sekitar beberapa hari menjelang Idul Fitri beberapa tahun lalu. Kuliah saya masih 2 tahun lagi. Mengawali berhijab hanya dengan 3 stel pakaian bekas, membuat saya harus rajin cuci baju. Pulang kuliah, segera ganti baju, cuci, kering, setrika, begitu terus.

Syukurlah pas lebaran ada kakak sepupu yang memberi hadiah kain/bahan yang buat saya cukup mewah saat itu bermotif bunga-bunga kecil warna hijau, panjang 3 meter, cukup untuk dibuat 1 stel busana Muslimah. Bulan depannya, saya ulang tahun, sahabat-sahabat kuliah saya patungan memberi kado kain kembang-kembang warna pink, yang cukup untuk dibikin jadi 1 stel busana Muslimah.

Masyaa Allah, rejeki saya kok makin lancer saja, padahal dulu sebelum berjilbab, rasanya gak pernah ada yang menhadiahi saya baju/bahan baju. Cukup lama saya bertahan dengan 5 stel baju itu, dan saya sama sekali tak merasa minder dengan kondisi itu. Berhijab rasanya membuat saya makin percaya diri. Alhamdulillah, setahun sebelum lulus, saya lolos tes untuk mendapatkan beasiswa ikatan dinas. Programnya Pak Habibie semasa beliau menjabat sebagai Menristek di era Presiden Soeharto. Jadi saya tak perlu repot cari pekerjaan setelah lulus kuliah. Hanya 3 minggu setelah wisuda, saya sudah bekerja di sebuah BUMN bidang manufaktur, pabrik kapal.

Benar, Allah menjamin rizki hambaNya yang mau mentaati perintahNya. Subhanallah Seiring perjalanan waktu, sekitar 15 tahun lalu Desember 2004 tiba-tiba saja perusahaan tempat saya bekerja menugaskan saya ikut pelatihan di Jepang.

Awalnya saya sempat galau, bagaimana dengan hijab saya disana nanti? Tapi…, ya sudahlah, dijalani saja. Ternyata, sejak hari pertama menginjakkan kaki di Tokyo, saya sama sekali tak mengalami kesulitan dengan hijab saya. Memang, terkadang ada orang yang melihat saya dengan pandangan sedikit aneh, tapi hanya beberapa detik saja, lalu kembali cuek. Biasanya malah anak-anak yang ngeliatin saya dengan tatapan “aneh”.

Ada pengalaman menarik yang membuat saya akhirnya “bertemu” dengan masjid. Suatu sore setelah sekitar 3 bulanan tinggal di Setagaya-ku, prefecture Tokyo, seperti biasa saya pulang sekolah naik kereta dari Shibuya ke Oyamadai (stasiun terdekat dari dormitory saya), transit di Jiyuugaoka untuk berganti kereta.

 

Kereta lumayan penuh sesak seperti biasanya. Begitu turun dari dari kereta, saya bergegas jalan, hendak menuju ke bagian lain dari stasiun di bawah tanah, karena jalur kereta saya berikutnya disana. Tetiba seseorang berteriak-teriak “Sister…!! Sister…!!” Saya sih cuek saja, sebab tak merasa kalau sayalah yang dipanggilnya. Perempuan Jepang berbadan langsing dan berhijab itu berlari mengejar saya, sampai dia persis berada di samping saya. Upaya yang tidak mudah di tengah sibuknya stasiun transfer pada rush hour sore.

Saya menoleh ketika dia mengucap salam “Assalamu’alaikum”. Itu pertama kalinya saya mendengar salam seorang Muslim selain dari 2 orang teman Indonesia saya, di Tokyo.

“Sister, are you Moslem, aren’t you? Where do you come from?” Wow, seorang Jepang pintar bahasa Inggris itu jarang lho, apalagi pronounciation-nya cukup bagus.

Saya jawab bahwa saya Muslimah asal Indonesia. Sudah berapa lama kamu di Jepang? Apa kamu sudah pernah ke masjid selama disini? Itu pertanyaan dia selanjutnya. Saya jawab sejujurnya bahwa memang saya belum pernah bertemu masjid.

Diapun memperkenalkan dirinya, namanya Asma, dia muallaf, warga Jepang. “Sister, kamu tahu Otsuka? Satu stasiun setelah Ikebukuro, disana ada masjid, banyak orang Indonesia disana, kalau Sabtu pekan pertama dan ketiga setiap bulan kita ada pertemuan” katanya, agak tergesa, berusaha menjelaskan sambil masih agak terengah-engah sehabis lari mengejar saya. Dia mengaku punya teman wanita Jepang yang juga muallaf, tapi dia pintar berbahasa Indonesia karena pernah lama tinggal di Indonesia.

Ukhti Asma meminta nomor HP saya, dia akan berikan nomor HP saya kepada temannya itu agar saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan temannya bisa memberi petunjuk dimana letak masjidnya. Setelah mencatat nomor ponsel saya, dia pamit hendak kembali naik kereta jurusan yang sama.
Jadi ceritanya sore itu dia hendak ke suatu tempat ada janji dengan orang lain. Ketika di Shibuya dia melihat ada perempuan berjilbab naik di gerbong yang sama dengannya, tapi posisi saya jauh dari dia.

Dia terus mengawasi saya dari jauh, karena tak ingin kehilangan jejak saya. Begitu saya turun di Jiyuugaoka, dia pun ikut turun dan mengejar saya. Masyaa Allah, padahal kan dia punya urusan lain dan biasanya orang Jepang sangat pantang membuang waktu karena mereka selalu tepat waktu kalau janjian.

Saya terharu melihat upayanya yang luar biasa mengejar dan menyapa saya, demi agar saya bisa bertemu masjid. Inilah “berkah” hijab, Seandainya saya tak memakai hijab, mana dia tahu saya wanita Muslimah, iya kan? Benar, seperti janji Allah, hijab menjadi “pembeda”. Esok harinya, Asma menepati janjinya, temannya menelpon saya. Bahasa Indonesia-nya lancer karena pernah 8 tahun tinggal di Indonesia dan suaminya seorang pria Indonesia.

Ukhti ini memberi tahu ancer-ancer masjid Otsuka, tapi agar saya tidak tersesat, dia bilang Ukhti Asma akan menjemput saya di pintu keluar stasiun Otsuka pada hari Sabtu ini. Benar saja, pada jam yang dijanjikan selepas Dhuhur saya sudah tiba di stasiun Otsuka dan Ukhti Asma sudah menunggu saya dengan full senyum.

Kami berjalan tak jauh, menyeberang dan melewati satu kawasan mirip pasar. Disana ada kacang rebus dan ubi rebus, biasanya sepulang pengajian saya suka beli. Masjidnya sama sekali tak tampak seperti masjid pada umumnya yang berkubah, Itu hanyalah rumah tinggal biasa berlantai 2, dimana jamaah pria beraktivitas di lantai bawah dan jamaah wanita di lantai atas. Ukhti yang bersuamikan pria Indonesia itu rupanya salah satu ustadzah yang memberikan kajian, bergiliran dengan ustadzah lainnya. Saya bertemu beberapa mahasiswi Indonesia dan para istri yang ikut suaminya tugas belajar di Tokyo.

Kalau pekan pertama pengajiannya dalam bahasa Indonesia dengan translasi bahasa Inggris, sebaliknya kalau pekan ketiga pengajiannya dalam bahwa Jepang dengan translasi bahasa Inggris. Selain para muallaf Muslimah Jepang dan Indonesia, ada juga beberapa muslimah dari Pakistan, dan negara-negara lain yang jumlahnya tak sebanyak orang Indonesia. Sejak itu, setiap Sabtu pekan pertama dan ketiga sehabis Sholat Dhuhur saya selalu ke masjid Otsuka.

Pekan ketiga, meski pengajiannya memakai bahasa pengantar bahasa Jepang, tapi saya suka karena selalu ada sesi sharing pengalaman muallaf para Muslimah Jepang. Mereka bercerita awal mula datangnya hidayah, bagaimana kemudian mereka memutuskan masuk Islam, apa saja tantangannya dan bahkan pengorbanannya. Sering saya merasa malu hati, karena menjadi Muslim tanpa perjuangan, cuma bermodalkan keturunan, begitu pun dulu saya tidak langsung taat pada perintah menutup aurat.

Sedangkan mereka, para Muslimah Jepang, diusir keluarganya, dipecat dari pekerjaannya, diceraikan suami, tak ada anggota keluarga yang mau menerima, hidup seketika berubah jadi susah, tak punya uang bahkan ada yang jatuh sakit, namun begitu pun mereka seketika “sami’na wa ‘atho’na” langsung berhijab segera setelah mengikrarkan Syahadat. Masyaa Allah.

Menjelang musim gugur, ada kemah bersama keluarga Muslim selama 3 hari 2 malam. Saya ikut mendaftar meski biayanya cukup mahal, tapi itu akan jadi pengalaman unik dan menarik buat saya. Pada hari Sabtu yang ditentukan, kami berkumpul di masjid Otsuka. Ternyata pesertanya banyak, entah dari mana saja. Berbagai warga negara ada disana. Ustadznya pun ada yang dari Afsel. Saya lupa total ada berapa bis yang membawa rombongan kami, yang jelas keluarga Muslim itu mengajak serta semua anak mereka termasuk yang masih baby sekalipun. Bis nya dipisah, ada bis khusus jamaah pria, ada yang khusus jamaah wanita. Anak yang sudah baligh ikut bapak/ibu nya sesuai jenis kelamin.

Anak laki-laki yang masih kecil sekali dan masih tergantung pada ibunya, boleh ikut ibunya. Perjalanan yang cukup jauh jadi terasa menyenangkan karena sepanjang jalan diisi dengan aktivitas menarik. Ada kuis dan tebak-tebakan seputar Islam dan ajaran Islam, siapa yang paling cepat bisa menjawab dapat hadiah. Kuis diberikan dalam 3 bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia.

Bahasa Indonesia masuk hitungan karena mayoritas peserta adalah keluarga Indonesia. Event kemah bersama keluarga Muslim ini benar-benar membuat kami makin kuat ukhuwah Islamiyahnya.
Selama di Jepang, saya mendapatkan teman sedormitory asal Mongolia. Usianya jauh di bawah saya. Dia anak orang ternama di negaranya, katanya bapaknya gubernur bank sentral disana. Kakeknya pun tokoh dan mantan pejabat negara. Dia tak punya agama, tapi menolak disebut “atheis”.

Seringkali, dia datang ke kamar saya dan mengajak ngobrol sampai larut malam, bercerita soal bagaimana negaranya ketika dulu komunisme Eropa Timur masih berjaya, sebelum runtuhnya Soviet.
Dia menyebutnya “ketika kami masih dalam kondisi ekonomi tertutup” dan menyebut keadaan sekarang “setelah sekarang kami menuju free market”. Baginya agama dan “tuhan” adalah sesuatu yang abstrak, absurd, aneh. Dia bilang pernah bertemu/ melihat Dalai Lama di Tibet.

Kalau ditanya apa cita-citanya kelak, dia akan jawab “ingin seperti Dalai Lama”. Bukan, bukan menjadi seorang spiritualis, tapi hanya sekedar ingin hidup dengan cara seperti Dalai Lama, mengasingkan diri. Dia sendiri punya anak di usia 19 – 20 tahun. Bukan karena menikah, tapi karena hidup bersama pacarnya.

Awalnya kedua orang tuanya – yang sudah hidup ‘separate’ marah besar atas kehamilannya. Bukan karena anak mereka hamil di luar nikah, tapi karena ortunya terutama ibunya merasa masih terlalu muda untuk menjadi kakek dan nenek (teman saya anak pertama). Yah begitulah, namanya juga bukan “nilai” yang mereka anut.

Sekali waktu dia pernah bertanya, “Ira, kamu kan sudah meninggalkan negaramu, jauh sekali, ibumu pun tak tahu apa yang kamu lakukan, jadi kenapa tidak kamu buka saja ‘your head scarft’.

Saya jawab : “Right, saya sekarang berada ribuan kilometer dari negara saya, ibu saya pun tak akan tahu apa yang kulakukan disini. Tapi, Tuhan ku dekat, Dia selalu melihat apa saja yang aku lakukan”. Dia menoleh “Oh really?!” tatapannya seperti tak percaya dan sekaligus seakan mengejek.

“Yes, ofcourse!” jawab saya mantab. “Lalu, apa Tuhanmu itu membantumu?” tanya nya lagi. “Oh selalu, Tuhanku tak pernah meninggalkan aku sendirian”, jawab saya sambil senyum bangga. “Contohnya?” dia masih mencoba ngeyel, karena tak percaya Tuhan saya benar menolong saya. “Kamu tahu kan, saya bukan orang yang smart street? Tapi kamu lihat, kemana pun saya pergi meski sendirian, tapi saya tak pernah tersesat!”, jawab saya penuh kemenangan.

“Nah, itu dia Ira, yang aku heran! Sudah lama aku ingin tanya kamu. Heran ya, setiap kali kita pergi bersama, bahkan ke tempat yang kita sudah pernah kesana, kamu selalu gak hafal jalan. Kalau ke tempat yang sama sekali belum pernah kesana, kamu selalu mengandalkan aku. Kamu juga susah baca peta, sering kamu nyaris tersesat. Tapi aku heran, tiap kali kamu pergi sendiri, kamu selalu tiba di apartemen malam hari dengan tidak sekalipun kamu tersesat, katanya seperti sedikit kesal.

“Aku selalu berdoa, mohon pertolongan Tuhanku, meminta dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau menolongku, minta dimudahkan urusanku”.

“Hmmm…, dan kamu yakin semua itu karena bantuan Tuhanmu?” “Yes, ofcourse!!” dan dia pun mingkem. Beberapa kali dia masuk kamar saya saat saya sedang membaca Al Qur’an. Dia tanya itu buku apa, apakah saya hafal “buku doa” setebal itu. Dan banyak lagi pertanyaan “aneh”.

Selama masa “kerja magang” di beberapa perusahaan, saya pun tak pernah mengalami kesulitan. Jilbab saya tak pernah dipersoalkan. Bahkan ketika magang di sebuah perusahaan percetakan world class yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, Manager HRD nya sudah menyiapkan “jadwal sholat 5 waktu” yang dia unduh dari Google, agar menjadi pengingat bagi semua stafnya yang menjadi mentor saya, bahwa pada jam-jam itu saya harus diberi waktu untuk menunaikan sholat.

Ketika magang di sebuah perusahaan di prefecture Saitama, ownernya bahkan melarang saya menginap di hotel, pasutri sepuh itu mengajak saya tinggal di rumah besar mereka yang hanya ditinggali berdua karena ketiga anaknya sudah tidak lagi tinggal disana. Dan karena waktu itu bulan Ramadhan, saya dibebaskan untuk menyiapkan makan sahur sendiri.

Sebaliknya, saat buka puasa, mereka menyiapkan untuk menjamu saya, kadang diajak makan di luar, tapi lebih sering istri sang owner itu menyiapkan sendiri makan malam buka puasa untuk saya. Bahkan, saya sempat dibelikan 1 stel baju 3 baru 3 pieces yang cocok untuk jadi busana Muslimah, blus lengan panjang, celana panjang longgar plus bolero panjang yang menutupi sampai di bawah paha.

Benar-benar baju baru, saya diajak ke sebuah department store dan boleh memilih sendiri baju mana yang saya suka. Suatu pengalaman yang tidak didapatkan teman saya lainnya. Boro-boro dibelikan baju, ditraktir makan secara personal saja tidak pernah. Maha Baik Allah yang mempertemukan saya dengan orang-orang baik.
That’s my adventure with my hijab. Tak sedikitpun terbersit keinginan untuk melepas hijab, sejak pertama kali memakainya hampir 29 tahun yang lalu.

Semoga saja saya bisa tetap istiqomah hingga ajal menjemput. Aamiin… Saat ini muslimah di tanah air lambat laun sudah lebih banyak mereka para wanita mengenakan hijab atau jilbab, baik ke sekolah, mau pun bekerja atau kemana saja bepergian. Sejumlah pendapat, kalangan pria lebih melihat lebih dan ada nilai plus bagi wanita yang mengenakan hijab. Selain terlihat semakin cantik dan menjaga kehormatan sebagai wanita. Karena sesungguhnya kaum pria pasti lebih menyukai wanita yang memiliki tubuh tertutup ketimbang yang terbuka bagian sensitifnya.
(KRO/Dikutip: tulis Irawan Oemar. G).

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com