493 Istri Jadi Janda Akibat Efek Corona di Semarang

493 Istri Jadi Janda Akibat Efek Corona di Semarang

RADARINDO.co.id-Jateng:
Dampak wabah corona sempat mengguncang dunia dan isinya. Artinya virus yang awalnya dari Huwan itu tidak hanya berdampak bagi lapangan pekerjaan dan usaha, tapi juga merambat hingga mahligai rumah tangga.
Hal yang sempat mencengangkan terjadi di Semarang, karena gugatan perceraian untuk para suami meningkat tajam, diduga akibat efek Corona.

Pendemi Covid-19 disebut-sebut menyebabkan peningkatan angka perceraian. Kondisi tersebut terjadi di berbagai negara, seperti China dan Jepang. Fenomena ini juga terjadi di salah satu daerah di Indonesia, di mana angka permintaan cerai tiba-tiba melonjak sangat tajam.

Dampak mengejutkan yang diakibatkan oleh pandemi virus corona (Covid-19) itu terjadi di Kota Semarang.
Covid-19 tidak hanya mempengaruhi perekonomian, tapi juga persoalan keutuhan rumah tangga. Diantaranya tercatat sebanyak 533 kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama di Kota Semarang periode bulan Maret hingga Mei 2020 diperkirakan sebanyak lebih kurang 459 diantaranya merupakan gugatan cerai yang diajukan oleh pihak istri.

Sedangkan permohonan cerai talak oleh pihak suami ada 84 kasus. Peristiwa ini menunjukan kasus istri minta cerai sangat tinggi di Kota Semarang, yakni enam kali lipat dibanding suami yang minta cerai.
Menurut panitera Pengadilan Agama Kota Semarang, Saefudin, sesuai dilansir dari tribun.com baru baru ini.

Mengapa banyak istri yang minta cerai. Paling banyak karena perselisihan, pertengkaran, perselingkuhan, dan faktor ekonomi. Terlebih kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini memang sangat mempengaruhi ekonomi.
“533 kasus itu merupakan angka total sejak Maret hingga Mei 2020, dengan perincian di bulan Maret ada 175 perkara gugatan cerai yang dilakukan istri dan 34 perkara permohonan cerai talak,” ujarnya tegas.

Lebihlanjut dikatakan, pada bulan April ada 199 gugatan cerai dan 27 permohonan cerai talak, lalu di bulan Mei ada 85 perkara gugatan cerai serta 13 perkara permohonan cerai talak, ungkap Saefudin dikutip dari AntvKlik Jumat (19/06/20).

Saefudin menambahkan, perkara yang dilatarbelakangi KDRT juga ada tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding faktor ekonomi, perselingkuhan, maupun pertengkaran. Sumber lain menyebutkan, efek corona telah memiliki dampak luas, sehingga tidak sedikit warga kehilangan pekerjaan. Akibatnya berdampak pada hubungan suami istri yang membawa keretakan mahligai rumah tangga, seperti di Semarang. (KRO/RD/ssk.id)

 

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com