Pengawas Persaingan Usaha Teliti Mahalnya Harga Gula

Pengawas Persaingan Usaha Teliti Mahalnya Harga Gula

RADARINDO.co.id : Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan penelitian terkait mahalnya harga gula di pasaran saat ini. Salah satu hasilnya adalah adanya persoalan kinerja sektor dan perilaku pelaku usahanya.

“Kinerja sektor ini terkait dengan faktor-faktor pembentuk harga (seperti produksi, penyimpanan, dan distribusi). Perilaku pelaku usaha terkait bagaimana para pelaku usaha berinteraksi dalam melakukan kegiatan usahanya. Kedua sisi ini tentunya dapat saling terkait,” kata Komisioner KPPU RI Guntur S Saragih, dalam keterangan tertulis resminya, dilansir dari Waspadaaceh.com, Jum’at (22/5).

Guntur mengatakan, perilaku pengusaha ditangani dalam suatu proses penegakan hukum yang tengah berjalan. Sementara kinerja sektor ditangani dalam suatu proses kajian atau penelitian.

“Indonesia membutuhkan gula konsumsi sekitar 3 juta ton/tahun. Jumlah ini 73%-nya atau sekitar 2,1 juta hingga 2,2 juta ton dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sementara sisanya dari impor. Pasokan tersebut dilakukan oleh 24 pelaku usaha dengan total kepemilikan 58 pabrik gula,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dari jumlah produksi dalam negeri tersebut, hingga 36%-nya dipenuhi oleh pabrik gula swasta yang memperoleh tebu dari perkebunan gula rakyat. Sisanya atau sekitar 800 ribu hingga 900 ribu ton dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk raw sugar atau gula kristal putih.

Dengan kecenderungan pasar yang oligopolistik, pemenuhan pasokan dan distribusi gula dilakukan oleh beberapa pelaku usaha, baik berupa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun pelaku usaha swasta. Kemampuan bersaing produsen gula di Indonesia ditentukan oleh kemampuannya dalam efisiensi berproduksi.

“Dalam artian, sejauh mana produsen gula mampu memproduksi dengan harga pokok yang terbaik. Saat ini, kemampuan tersebut masih berbeda-beda. Penelitian di KPPU menemukan bahwa pelaku usaha swasta yang memiliki lahan perkebunan sendiri yang efisien mampu memproduksi dengan harga pokok yang berkisar antara Rp6.000 hingga Rp9.000 per kilogram,” jelasnya.

Sementara, kata dia, harga pokok produksi petani tebu yang bermitra dengan pabrik gula, berdasarkan informasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) adalah sekitar Rp12.000 hingga Rp14.000, yang notabene dapat berada di atas harga acuan penjualan. Tingginya harga pokok produksi petani tebu tersebut tentunya mengurangi kemampuan gula petani dalam berkompetisi dengan gula hasil produsen gula yang efisien. (KRO/RD/WPD)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com