Pemprotes Anti Pemerintah Hongkong Serahkan Diri

by -25 views

RADARINDO.co.id – HONGKONG : Delapan pemprotes anti pemerintah yang bertahan di universitas Hongkong menyerah, Jum’at (22/11). Sementara yang lain mencari celah melarikan diri melewati polisi anti huru-hara yang mengepung kampus tersebut, namun mengatakan tidak ada batas waktu untuk mengakhiri per­tikaian.

Pengepungan di Universitas Po­liteknik di semenanjung Kow­loon tampaknya mendekati akhir dengan jumlah pemprotes menyu­sut menjadi hanya beberapa orang, beberapa hari setelah ter­jadi beberapa aksi kekerasan ter­buruk sejak unjuk rasa anti peme­rintah meningkat pada Juni.

Kepala Polisi Chris Tang, yang men­jabat pekan ini, mendesak me­reka yang masih di dalam untuk keluar. “Saya yakin orang-orang di dalam kampus tidak ingin orang­tua, teman mereka khawatir ten­tang mereka,” kata Tang kepada para wartawan.

Mereka yang masih bertahan me­ngatakan tidak ingin ditang­kap atas dakwaan kerusu­han atau dak­waan lainnya, jadi berharap untuk men­cari cara un­tuk melewati polisi atau bersem­bunyi.

Kampus Politeknik tampak tenang pada Jum’at. Terdengar teriakan Tentara Pem­bebasan Rakyat Tiongkok tengah latihan di pangkalan di dekatnya.

Sementara itu dilaporkan ke­ba­nya­kan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di sana memu­tuskan untuk kem­bali. Namun disisi lain, para buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) tetap bertahan.

Sejak tanggal 11 November 2019, polisi Hongkong berusaha masuk wilayah kampus. “Hari Senin (11/11) itu, tiba-tiba pa­gi-pagi banyak polisi di kampus,” kata William Huang, mahasiswa Indonesia di PolyU kepada ABC.

William menceritakan, sejak saat itu kampusnya diliburkan. Dan hingga kini (22/11) masih ditutup. Mahasiswa program sarjana yang duduk di semester 3 ini mengaku telah kembali ke Indo­nesia sejak pekan lalu, setelah menerima email dari pihak kam­pus.

Selain dirinya, kata William, ma­yoritas mahasiswa Indonesia di PolyU juga telah kembali ke Indonesia. “Mahasiswa Indonesia di sini kurang lebih 90-an. Sekitar 80 sudah pulang. Tapi beberapa masih di Hongkong karena punya keluarga di sana,” sebut mahasiswa jurusan Product Engineering ini.

William belum tahu sampai kapan kam­pusnya ditutup, tapi ia sangat berharap bisa kembali ke Hongkong dan melanjutkan studi yang terhambat. “Sepengetahuan saya tidak ada yang lanjut kelas seperti bia­sa, antara berhenti sama sekali atau ada kelas online,” katanya.

Sementara, Kementerian Kete­nagakerjaan Indonesia (Ke­menaker) menilai, sejauh ini, si­tuasi di Hongkong masih kondusif untuk para buruh migran. “Tidak ada penutupan job order (pesanan kerja) dari pengguna jasa TKI di HK (Hongkong). Penempatan TKI yang new comer (baru datang) di HK juga masih berlanjut,” jelas Ke­pala Biro Humas Kemenaker, Soes Hindharno. (KRO/RD/ANS)