Rumah Dijual Mertua, Keluarga Ini Tinggal di Gubuk Mirip Kandang Ayam

by -102 views

RADARINDO.co.id – KUBU RAYA : Keluarga sepasang suami istri harus berjuang menghidupi keempat anaknya di sebuah gubuk berdinding seng bekas yang mirip kandang ayam di Jalan Tani, Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Keluarga ini merupakan warga asli Siantan Hulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Namun, mereka terpaksa pindah ke gubuk itu setelah rumah lama mereka dijual bapak mertuanya 2 bulan lalu.

Lena, sang ibu, enggan menceritakan prihal itu lebih jauh. Menurut dia, alasan mereka memilih tinggal di gubuk itu lantaran keterbatasan ekonomi. “Suami kerja serabutan. Anak 4 orang. Jadi saya bersama suami buat rumah disini,” kata Lena, dilansir dari Kompas.com, Sabtu (12/10).

Pembangunan rumah tersebut kata Lena, dengan memanfaatkan bantuan warga-warga lain yang memberikan tumpangan tanah serta memberikan seng bekas kandang ayam. “Untuk kayu-kayunya, saya sama suami mencari pohon di hutan,” tuturnya.

Lena menceritakan, keempat anaknya masing-masing berusia 15 tahun, 14 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. Anak tertuanya sudah putus sekolah sejak 2 tahun lalu lantaran tidak ada biaya.

Sedangkan, anak keduanya masih sekolah menengah pertama kelas VII juga terancam putus, karena masalah serupa. “Sehari-hari, saya ke hutan mencari ubi dan sayur pakis untuk dijual dan dimakan,” terangnya.

Yang paling mengkhawatirkan menurut Lena, adalah saat musim hujan seperti sekarang ini. Anak-anak harus mencari posisi duduk dan tidur agar tidak terkena hujan. Situasi itu diperparah dengan kondisi anak pertamanya yang sering demam karena pernah terjatuh.

Saat ini, Lena mengaku telah 4 hari mengalami diare dan tidak bisa berobat karena tidak memiliki biaya dan BPJS Kesehatan. “Saya berharap pemerintah memberi perhatian dan bantuan untuk sekolah anak dan biaya kesehatan keluarga kami,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Yandi mengatakan, adanya satu keluarga yang menempati gubuk berdinding seng bekas mirip kandang ayam akibat buruknya komunikasi dan koordinasi aparatur pemerintah, dari mulai tingkat RT sampai pemerintah kota. “Mengenai persoalan ini, semoga bisa cepat dicarikan solusi,” kata Yandi.

Dia beranggapan, selama ini pemerintah setempat belum bisa mengimplementasikan kebijakan dengan baik. Padahal, sejak lama di Pemko Pontianak punya program yang menegaskan bahwa tidak boleh ditemukan anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya.

Bahkan dalam kebijakan tersebut, jelas diterangkan bahwa jika masih ditemukan keluarga miskin dan anak putus sekolah, maka lurah setempat akan dicopot dari jabatannya.

“Kejadian ini jadi kado buruk bagi Kota Pontianak yang akan merayakan ulang tahunnya ke-248 tahun,” ujarnya, sembari berharap agar kedepannya seluruh dinas terkait, pro aktif dalam melakukan pendataan. (KRO/RD/Komp)