Polisi Ungkap Kasus Perdagangan Orang Modus Bea Siswa

by -62 views

RADARINDO.co.id – JAKARTA : Polisi berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus pemberian beasiswa kuliah dan bekerja di Taiwan. Setidaknya, 40 orang Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan telah menjadi korban.

“Ada modus operandi baru, yaitu menjanjikan beasiswa kuliah di luar negeri. Sudah ada sekitar 40 orang WNI yang menjadi korban, dan mereka berasal dari wilayah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah,” kata Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Kombes Pol Agus Nugroho, di Jakarta, Rabu (9/10).

Mulanya, korban dijanjikan program kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Taiwan, dengan syarat harus membayarkan uang Rp35 juta sebagai biaya administrasi.

Dijelaskan juga, orangtua korban yang tidak mampu menyanggupi pembayaran administrasi dapat mengambil pinjaman dari para tersangka. Dengan catatan, pelunasan akan dilakukan dengan pemotongan gaji dari para korban selama bekerja di Taiwan.

Korban juga harus menyertakan persyaratan administratif lainnya seperti ijazah SMA, KTP, KK, Akte Kelahiran, Raport SMA, Surat Ijin dari orangtua, dan SKCK. Selain itu, peserta juga diwajibkan untuk melewati rangkaian wawancara dengan pihak Taiwan saat di Jakarta.

Polisi menduga, rangkaian persyaratan itu dilakukan untuk menyamarkan niat dari tersangka untuk memperdaya korban bekerja di Taiwan. Saat di Taiwan, korban ditempatkan di pabrik besi. Mereka bekerja dari Senin hingga Sabtu.

Berdasarkan informasi, para korban semula dijanjikan mendapat gaji 27 ribu dolar Taiwan. Setelah mendapat pemotongan uang, korban hanya mendapatkan 5 ribu dolar Taiwan atau sekitar Rp2 juta.

Untuk sesi kuliahnya, Agus menyebut bahwa hal itu baru dilakukan pada hari Minggu. Itupun hanya berupa kursus bahasa demi memperlancar pekerjaan.

“Seolah-olah untuk perkuliahan, padahal pada praktiknya hanya kursus bahasa saja. Jelas, arahnya nanti untuk menghasilkan profit,” jelas Agus.

Untuk kasus ini, polisi telah menangkap dua tersangka berinisial M dan L yang menjadi dalang dalam praktik pemberangkatan pekerja migran ilegal.

Atas perbuatannya, polisi menggunakan pasal 4 UU nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan atau Pasal 83, Pasal 86 Huruf A UU No 18 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. (KRO/RD/Cnn)