“Perburuan Harta Karun” di Lahan Bekas Karhutla Telah Terjadi Sejak 14 Tahun Silam

by -30 views

RADARINDO.co.id – PALEMBANG : Perburuan barang berharga peninggalan Kerajaan Sriwijaya di lahan gambut bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ternyata sudah terjadi sejak 14 tahun silam, tepatnya pada tahun 2005.
Kolektor Benda Peninggalan Sriwijaya, Okky Okta Wijaya mengungkapkan, selain kaya akan benda peninggalan berharga, kawasan gambut di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), khususnya di Desa Sungai Jeruju, mengandung serbuk emas yang biasa dicari oleh warga untuk dijual.

Okky menjelaskan, peninggalan Sriwijaya pertama kali ditemukan di lokasi tersebut oleh seorang warga, berupa perhiasan cincin emas pada 2005 silam.
Saat itu, warga tersebut mencangkul tanah di halaman rumahnya dan menemukan cincin emas. Setelahnya, pencarian semakin marak memasuki tahun 2012 seiring penemuan material mengandung serbuk emas di tanah tersebut.

Usai karhutla parah yang terjadi pada 2015, masyarakat semakin berbondong-bondong mencari barang berharga dan emas. Pasalnya, lahan bekas terbakar mempermudah akses jalan yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka. Bahkan, banyak warga yang mendirikan tenda di sekitar lokasi untuk berburu benda peninggalan dan serbuk emas.
“Mencari serbuk emas itu sudah jadi mata pencaharian penduduk setempat. Kalau saya hanya membeli barang peninggalan Sriwijaya yang ditemukan warga. Hanya serbuk emas saja. Kalau emas alamnya tidak, itu ada orang lain yang belinya,” ujar Okky, dilansir dari CNNIndonesia.com, Senin (7/10).

Pria yang sudah menjadi kolektor barang antik sejak 2010 ini, mengaku pernah menemukan puluhan lempengan berbahan emas, perunggu, serta timah berbahasa Sansakerta pada 2017 lalu di Cengal. Lempengan-lempengan tersebut berisikan mantra, do’a, santet, bahkan kuitansi pembelian tanah.
“Yang lempengan emas itu kemungkinan diterbitkan oleh pemerintahan Sriwijaya, isinya kaya syair-syair puisi sama kuitansi. Yang perunggu dan timah kemungkinan dibuat oleh masyarakat, isinya do’a dan mantra. Panjangnya 14-24 sentimeter dan lebarnya sekitar 3-4,5 sentimeter. Kemungkinan itu peninggalan abad ke-6, masa awal Sriwijaya. Sekarang masih diteliti oleh peneliti di Tangerang,” ujarnya.
Selain lempengan, Okky juga menemukan koin emas diduga mata uang yang digunakan pada masa lalu. Motifnya bermacam-macam, ada yang memiliki simbol x, simbol p terbalik yang bermakna huruf ‘ma’ dalam bahasa Sansakerta, serta yang paling lazim adalah simbol bunga cendana.
Koin emas bermotif bunga cendana diketahui tidak hanya di wilayah Sumatera Selatan saja, namun juga ditemukan di Filipina dan Thailand. Hal tersebut menandakan bahwa wilayah kekuasaan Sriwijaya meluas ke kawasan tersebut. Yang terbaru, Okky menemukan koin emas tersebut di kawasan Tulung Selapan, Kabupaten OKI pada 23 September 2019 lalu. (KRO/RD/CNN)