Dampak Kemarau Panjang, Warga Boyolali Terpaksa Jual Ternak Sapi untuk Beli Air Bersih

Image: Dampak Kemarau Panjang, Warga Boyolali Terpaksa Jual Ternak Sapi untuk Beli Air Bersih

RADARINDO.co.id – BOYOLALI : Dampak musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah (Jateng), membuat warga kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Akibatnya, warga, khususnya di Dukuh Sudimoro, Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, terpaksa harus menjual ternak mereka untuk membeli air bersih.

Kemarau panjang yang melanda Desa Sudimoro sudah terjadi sejak enam bulan terakhir, terhitung sejak Mei 2019 lalu. Selama ini, warga yang bermukim di lereng Gunung Merapi itu, mengandalkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dari embung.

Namun, sejak kemarau panjang melanda, sumber mata air di desa tersebut menyusut, sehingga pasokan air bersih yang dialirkan ke rumah warga berkurang.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau, warga Desa Sudimoro harus merogoh kocek demi mendapatkan membeli air bersih. Salah satunya adalah Sarni (42) warga RT 022 Dukuh Sudimoro.

Sarni mengaku, sudah menjual dua ekor anak sapi perah miliknya untuk membeli kebutuhan air bersih selama musim kemarau. Satu ekor anak sapi perah dijualnya dengan harga antara Rp 5 juta-6 juta.

Menurutnya, kalau hanya mengandalkan susu perahnya saja, maka tidak mencukupi kebutuhan. “Kalau cuma mengandalkan hasil memerah susu tidak cukup. Jadi harus jual sapi yang masih kecil untuk menambah kebutuhan,” ucap Sarni, dilansir dari Kompas.com, Jum’at (4/10).

Sarni mengatakan, uang dari hasil menjual sapi digunakannya untuk membeli kebutuhan air bersih dan pakan ternak. Satu truk tangki air bersih ukuran 6.000 liter harganya antara Rp 280.000-300.000. “Satu tangki bisa untuk 10 hari, kadang malah kurang, tergantung kebutuhan,” katanya.

Selain air bersih, Sarni juga harus membeli kebutuhan pakan untuk 11 ekor sapi miliknya. Sehari kebutuhan pakan ternaknya mencapai ratusan ribu. “Kalau ditotal dalam 10 hari itu, pengeluaran mencapai Rp 3 juta. Uang itu untuk membeli air bersih, pakan sapi dan kebutuhan lainnya,” ujar Sarni.

Sarni mengaku pernah mendapat bantuan air bersih dari pemerintah. Namun, air tersebut tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga Sarni memilih untuk membeli air bersih sendiri.

Tak hanya Sarni, hal serupa juga dialami warga lainnya, bernama Sarwo (65). Menurutnya, kemarau tahun ini lebih lama dibanding tahun sebelumnya.

Biasanya lanjut Sarwo, saat memasuki bulan Oktober, hujan sudah mulai turun. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Menurut Sarwo, selama ini warga hanya mengandalkan pasokan air bersih dari sumber mata air di embung tak jauh dari desa.

Namun, sejak kemarau panjang, sumber air menyusut dan pasokan air berkurang. “Sejak kemarau ini sumber air menyusut. Jadi untuk kebutuhan air bersih beli saya beli. Satu tangki harganya Rp 300.000,” ujarnya.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air bersih yang dia beli juga untuk kebutuhan minum 11 ekor sapi perahnya. Dalam sehari, Sarwo bisa menghabiskan sekitar 25 liter air untuk sapi-sapinya. “Saya beli air itu sejak puasa. Karena puasa itu sudah tidak turun hujan sampai sekarang,” ucapnya. (KRO/RD/Komp)

 

www.radarindo.co.id
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com