Polres Aceh Selatan Berhasil Ungkap Olahan Emas Gunakan Bahan Berbahaya

Polres Aceh Selatan Berhasil Ungkap Olahan Emas Gunakan Bahan Berbahaya

RADARINDO.co.idTAPAK TUAN : Polres Aceh Selatan (Asel), berhasil mengungkap kasus pengolahan emas illegal, yang dalam pengolahannya menggunakan bahan berbahaya, di Gampong (desa) Lawe Melang, Kecamatan Kluet Tengah, Minggu (29/9).
Hal itu terungkap pada temu pers di Mapolres Aceh Selatan, Senin (30/9) lalu, dengan memperlihatkan banyak alat bukti itu, beserta seorang tersangka berinisial IS (46) warga Gampong Lawe Melang.
Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST, kepada wartawan mengatakan, saat dilakukan penangkapan terhadap pelaku, pihaknya juga turut mengamankan barang bukti berupa bahan mineral emas kurang lebih 20,54 gram, bahan mineral perak kurang lebih 111,72 gram, 7 sak karbon merk premium, 1 sak karbon merk Diamond, 1 sak caustic soda, 1 jeriken corrosive (air keras) dan 2 drum sodium cynida (sianida).
Selain itu lanjutnya, 3 timbangan digital, 1 botol sprit warna hijau bercampur mercuri dengan air kurang lebih seberat 580,78 gram, 1 set mangkok tempat pembakaran emas, 1 set alat pembakaran emas, 1 unit tempat tuangan emas, dan 1 unit blower.
Pelaku ungkapnya, ditangkap pada, Jum’at (20/9) lalu. Saat itu sambungnya, personel Opsnal Sat Reskrim Polres Aceh Selatan yang dipimpin Kasat Reskrim, Iptu Zeska Julian Taruna WS SIK, melakukan patroli rutin di wilayah Kecamatan Kluet Tengah.
Dalam perjalanan patroli, petugas mendapatkan informasi bahwa ada aktivitas pengolahan tanah yang mengandung emas di Gampong Lawe Melang yang menggunakan bahan-bahan kimia. Bahkan katanya, kegiatan pengolahan emas tersebut tidak memiliki izin. Setelah mendapatkan informasi tersebut, petugas kemudian langsung melakukan pengecekan ke lokasi, yakni di Gampong Lawe Melang. Tiba dilokasi, petugas menemukan alat pengolahan emas (blender) milik pelaku IS.
Namun, ketika petugas menanyakan legalitas terhadap usahanya, tersangka IS tidak bisa menunjukannya, sehingga petugas langsung melakukan pengecekan dan penggeledahan di sekitar lokasi. Alhasil, petugas menemukan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk mengolah emas tersebut sejak empat bulan lalu.
Pengakuan tersangka, dia sebelumnya berbisnis mineral emas dan perak dengan membuka toko di Koto Menggamat, sekitar 50-an sebelah utara Tapaktuan. Dalam menjalankan pengolahan emas tersebut, pelaku menerima batu dan tanah dari warga dengan sistem bagi hasil.
“Atas temuan tersebut, petugas mengamankan pelaku dan membawanya ke Polres Aceh Selatan guna pengusutan lebih lanjut,” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim Zeska Julian Taruna.
Atas perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 161 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara jo Pasal 106 Undang-Undang RI No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar. (KRO/RD/ANS)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com