Hadang Aparat yang Gusur Kebunnya, Emak-emak di Tobasa Buka Baju

by -135 views

RADARINDO.co.id – TOBASA : Aksi memanas antara aparat dengan masyarakat Adat Raja Na Opat Sigapiton di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) kembali terjadi. Dalam aksi tersebut, bentrok antar warga dan aparat tak terelakan. Beberapa warga bahkan ada yang pingsan dan mengalami luka-luka.

Melansir dari Tribun Medan, Sabtu (14/9), bentrok tersebut berawal permasalahan sengketa lahan. Warga desa mengaku ingin memperjuangkan lahan yang mereka yakini sebagai haknya.

Dalam peristiwa ricuh itu, kaum ibu-ibu juga ikut melakukan aksi demo dan menghadang aparat yang ingin menggusur kebunnya. “Jangan rampas lahan kami, leluhur kami sudah tumpah darah memperjuangkan ini dari Belanda,” ujar salah seorang ibu.

Masyarakat mengatakan bahwa persoalan lahan di desa mereka itu belum ‘clean and clear’. Kasus ini pecah saat lahan milik warga desa akan dibangun proyek pembangunan jalan untuk pengembangan industri pariwisata di Kawasan danau Toba.

Proyek pembukaan jalan ini pun menuai banyak penolakan dari masyarakat. Mereka menganggap bahwa pembangunan itu melewati daerah perkuburan dan juga perladangan milik masyarakat.

Dalam pertemuan itu membahas perihal pembukaan jalan, dan Luhut dengan tegas akan menjamin masyarakat tidak akan dirugikan.

Namun saat BPODT bersama aparat mengirim alat berat masuk dan membuka jalan dari Nomadic Kaldera Toba Escape menuju Batu Silali, masyarakat menjadi naik pitam.

Kaum ibu dari masyarakat Adat Raja Na Opat Sigapiton menjadi histeris dan nekat melepas pakaiannya satu persatu dan menghalau aparat yang membawa alat berat.

Togi Butar-butar, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, masalah perundingan belum selesai dengan tuntas. “Padahalkan saat pertemuan dengan Pak Luhut Sabtu lalu, soal pembukaan jalan ini harus dirundingkan kembali dengan kami. Kenapa langsung dipaksakan?,” ucap Togi.

Dalam insiden itu, salah satu staf Kelompok Studi Pengembangan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu, menjadi korban pemukulan.

“Saya dipukul dan diinjak oleh aparat saat kami berusaha menghalau masuknya eskavator ke lokasi lahan yang merupakan wilayah adat Desa Sigapiton,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Tobasa, AKBP Agus Waluyo mengatakan bahwa pemerintah telah mengganti rugi tanaman kepada pemiliknya. Menurutnya, warga dan kaum ibu-ibu yang menghadang tersebut bukan pemilik tanaman. “Bukan pemilik tanam tumbuh pak. Yang pemilik tanaman tumbuh sudah dibayar dan diganti rugi sesuai dengan apresial independen,” ujar Waluyo. (KRO/RD/ANS)