Misteri “KKN di Desa Penari” Hebohkan Dunia Maya

by -1,852 views

RADARINDO.co.id : Akhir-akhir ini, warganet dihebohkan dengan cerita horor “KKN di Desa Penari”. Cerita tersebut dituliskan oleh akun @SimpleM81378523 di Twitternya. Bahkan, pada Kamis (29/8) tagar #kkndesapenari juga menjadi trending nomor satu di Twitter Indonesia.

Dilansir dari Tribunnews.com, Jum’at (30/8), tagar tersebut juga sudah “dibicarakan” lebih dari 30 ribu kicauan. “KKN di Desa Penari” merupakan kisah yang bercerita tentang kelompok mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan mengalami kejadian horor.

Diceritakan, kejadian tersebut terjadi pada tahun 2009 silam. Lokasi KKN kelompok mahasiswa tersebut disamarkan dengan menggunakan nama “Desa Penari”.

Yang membuat cerita tersebut banyak diperbincangkan adalah banyaknya spekulasi mengenai lokasi tempat asli di kalangan warganet. Namun, penulis cerita “KKN di Desa Penari” bersikukuh untuk tidak mengatakan lokasi sebenarnya.

Meski akun SimpleMan kerap menuliskan kisah horor yang dia miliki, namun satu cerita horor kali ini menyeret perhatian khayalak publik lebih besar. Kisah “KKN di Desa Penari” menarik perhatian publik setelah cerita tersebut berakhir kematian dua mahasiswa yang terlibat.

Bukan hanya itu, cuitan yang ditulis selama 11 hari itu juga menunjukkan teka-teki daerah yang ada di Pulau Jawa. Akun tersebut menjelaskan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebutnya Desa Penari. Penulis menyebutkan meski berdasarkan kisah nyata namun ia tak mau menyebut lokasi dimana kejadian tersebut. Begitu juga nama-nama mahasiswa KKN yang disamarkannya.

Diceritakan, ada 6 mahasiswa yang berasal dari sebuah perguruan tinggi di Kota S melakukan KKN di sebuah daerah terpencil yang berada di kawasan timur Provinsi Jawa Timur di akhir tahun 2009.

Dialog dalam cerita tersebut yakni Bahasa Jawa. Selain itu, penulis juga menyertakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Enam mahasiswa angkatan 2005/2006 tersebut yakni Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu, dan Anton. Kota S diyakini oleh netizen yakni adalah Surabaya.

Simpang siur akan informasi lokasi yang beredar di linimasa, akun SimpleMan kemudian memberikan konfirmasi terkait cerita KKN di Desa Penari pada 26 Agustus 2019 lalu.

Singkatnya, akun SimpleMan menjelaskan jika cerita tersebut adalah cerita dari teman ibunya. Setelah dibahas, SimpleMan membungkus cerita tersebut menjadi narasi yang panjang dan nyaman untuk dibaca.

SimpleMan juga menegaskan jika dirinya merasa bersalah telah membahas atau membuat teka-teki lokasi Desa Penari tersebut. Akun SimpleMan berharap jika rahasia dan teka-teki dalam cerita biarlah menjadi rahasia.

Bahkan foto yang sempat dia unggah bukan berarti foto lokasi sebenarnya. Cerita KKN di Desa Penari dibagi menjadi dua cerita, yakni versi Widya dan versi Nur.

Menanggapi viralnya kisah horor tersebut, banyak pertanyaan tentang mengapa kisah horor diminati oleh banyak golongan masyarakat.

Hening Widyastuti, yang merupakan seorang psikolog asal Solo menilai hal tersebut karena adanya rasa sensasional yang didapatkan oleh seseorang ketika menonton film horor.

Hening juga menambahkan bahwa para penggemar cerita horor biasanya adalah orang yang menyukai sensasi tantangan dan memiliki jiwa yang tidak monoton. Campuran antara emosi dan rasa takut seseorang bisa terjadi saat membaca atau menonton cerita horor.

“Rasa sensasional yang paling dicari saat film horor ditayangkan, rasa deg-degan bercampur takut yang luar biasa serta keingintahuan yang besar akan apa yang terjadi di cerita berikutnya,” ucap Hening.

Hening juga menambahkan bahwa cerita horor bisa menjadi salah satu cara bagi seseorang untuk mengatasi stres. Dengan menonton atau membaca cerita horor, pikiran bisa kembali fresh.

“Biasanya dengan melihat film horor rasa jenuh stres yang dia miliki di alam nyata akan berkurang. Paling tidak mengurangi pikiran yang ruwet. Sehingga dia kembali fresh dengan adanya cerita horor yang menimbulkan deg-degan luar biasa,” ujarnya.

Hening menambahkan, membiarkan diri sendiri untuk “me time” dalam membaca maupun menonton cerita horor dapat menjadi cara untuk mengurangi stres. Namun, Hening juga menyarankan dalam menikmati cerita horor harus dalam batasan yang wajar. (KRO/RD/Trb)