BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen

by -0 views

RADARINDO.co.id – JAKARTA : Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan “7-day Reverse Repo Rate” sebesar 0,25% menjadi 5,75% dari 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (18/7). Langkah ini disebabkan meredanya tekanan eksternal yang akan membuat defisit transaksi berjalan pada 2019 diperkirakan lebih rendah diban­dingkan 2018.

Gubernur BI Perry Warjiyo Kamis mengatakan berdasarkan kajian hingga Juli 2019, defisit transaksi berjalan tahun ini akan lebih rendah dibanding defisit pada 2018 yang sebesar 2,98% produk domestik bruto. Namun Perry belum menyebutkan besaran spesifik perkiraan defisit transaksi berjalan 2019 tersebut.

“Defisit transaksi berjalan 2019 akan lebih rendah dibanding 2018 yang hampir menyentuh tiga persen PDB. Kira-kira di rentang 2,5-3,0 persen PDB,” ujarnya.

Pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral ini merupakan yang pertama kali sejak delapan bulan lalu atau November 2018 ketika suku bunga kebijakan dinaikkan ke level 6% untuk menghempang keluarnya aliran modal asing pada 2018. Saat itu, otoritas moneter menaikkan suku bunga acuan sebanyak 1,75% hingga ke level 6%.

Menyusul pemangkasan suku bunga acuan tersebut, Bank Sentral juga menurun­kan suku bunga penyimpanan dana per­bankan di BI (deposit facility) dan bunga penyediaan dana bagi perbankan (lending facility), masing-masing ke 5% dan 6,5%.

Dewan Gubernur Bank Sentral menya­takan, keputusan ini merupakan hasil per­timbangan bank sentral terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik.

Untuk ekonomi global, Perry meng­garisbawahi dampak eskalasi perang dagang yang kian memanas antara AS kontra China akan memperlemah perekonomian global dan volume perdagangan dunia.

“Sejumlah bank sentral merespons dina­mika yang kurang menguntungkan dengan kebijakan moneter lebih dovish (lunak), termasuk bank sentral AS yang diperkirakan menurunkan suku bunga acuannya,” ujar Perry.

Bank sentral memperkirakan The Fed, Bank Sentral AS, akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak satu kali pada 2019 dari level 2,25%-2,5%. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan BI untuk memangkas suku bunga acuannya mengingat tekanan dari pasar keuangan global akan mereda.

Sedangkan dari ekonomi domestik, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya pada Juli 2019 ini untuk memompa pertumbuhan ekonomi domestik. BI melihat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 akan stagnan karena anjloknya ekspor.

Nilai perdagangan internasional terhadap Indonesia akan turun karena melandainya permintaan dunia dan turunnya harga komoditas sebagai dampak perang dagang. “Secara keseluruhan untuk tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia di berada di bawah titik tengah lima hingga 5,4 persen,” tambah dia.

Untuk stabilitas eksternal, BI menilai neraca pembayaran Indonesia kuartal II masih tetap surplus karena neraca transaksi modal dan finansial akan lebih baik. Adapun arus modal asing masuk hingga Julni 2019 sebesar 9,7 miliar dolar AS. (KRO/RD/ans)