Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan

Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan

RADARINDO.co.id – TEBING TINGGI : Kepedihan pihak keluarga besar korban almarhumah Siti Aminah boru Purba, terus menyelimuti dan menjadi trauma yang berkepanjangan. Dimana, kedua pelaku yang tergolong masih muda belia dengan tega menghabisi nyawa korban.

Keluarga besar korban sepertinya tidak sanggup menyaksikan rekonstruksi perbua­tan bejat yang diperankan langsung kedua pelaku yang merasa dirinya tidak bersalah. Bahkan, rekonstruksi itu mereka anggap seperti tidak ada masalah dan cuma meme­rankan peran mereka masing-masing.

Awal dari rekontruksi perkara tindak pidana dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain dan melakukan pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan me­ning­galnya orang lain. Melakukan persetu­buhan terhadap orang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.

Rekontruksi kasus tindak pidana dengan modus curas dan perbuatan cabul hingga meninggalnya Siti Aminah boru Purba (50), staf Adm PKS PTPN-IV, kebun Pabatu, war­ga Emplasmen, Dusun III, Desa Kedai Damar, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupa­ten Serdang Bedagai, Rabu (26/6) dinihari lalu.

Kedua tersangka masih anak baru gede (ABG), AR alias Ansor (14), dan SMPP alias Lomo (15) Kecamatan Tebing Tinggi, Kabu­paten Serdang Bedagai, ditangkap petugas, Sabtu (6/7).

Dalam rekonstruksi itu, kedua tersangka, persisnya, Selasa (25/6) pukul 23.00 WIB se­pu­lang dari nonton jaran kepang di Gunung Pamela, keduanya duduk-duduk di warung Eka. Keduanya, melihat warung milik korban tutup dan timbul niat keduanya untuk melakukan pencurian. Keduanya mengeta­hui, korban tinggal sendirian. Salomo dan Ansor kemudian mengambil parang yang dimasukkan ke jok sepedamotor. Sebelum sampai tujuan, mereka berteduh di warnet karena hujan turun.

Persisnya, Rabu (26/6) pukul 02.15 WIB. Keduanya menggambar situasi rumah korban. Keduanya, sempat mondar-mandir dua kali guna memastikan keadaan. Kemu­dian, sepedamotor diparkir di belakang rumah.

Ansor mengambil parang. Keduanya berjalan ke samping rumah korban. Salomo, mencongkel jendela samping dan jerejak kayu serta masuk ke rumah korban. Kedua­nya, beraksi di dalam warung dan mengambil uang dan rokok dagangan korban.

Ansor kemudian beraksi, memanjat dan masuk melalui lubang angin di kamar mandi serta membuka pintu tengah yang terkunci. Keduanya, mengintip kamar tidur korban yang terbuka, tapi tertutup kain gorden. Mereka melihat korban tertidur. Keduanya melihat dua unit telepon selular di bagian kepala korban. Ansor dan Lomo kemudian kembali lagi ke warung, karena parang masih tertinggal sekaligus mengambil tali plastik.

Keduanya, berdiskusi untuk pembagian tugas sesuai dengan kesepakatan. Salomo masuk ke kamar dengan cara merangkak untuk mengambil telepon selular. Sementara Ansor meletakkan parang di atas tempat tidur sambil memegang dua potong kain sarung guna antisipasi untuk membekap wajah korban bila terjaga dari tidur.

Saat Salomo membuka pintu lemari di kamar korban, ternyata suara pintu lemari itu membangunkan korban. Mata korban saat itu terbuka, tapi masih dalam posisi tertidur. Ansor, secepatnya menutup mulut dan mata korban dengan kedua kain sarung.

Korban seketika itu memberikan perlawa­nan. Salomo kemudian membantu Ansor, mengambil bantal dan langsung membekap korban dengan sekuatnya. Karena korban masih melakukan perlawanan, bantal itu terlepas. Korban melihat wajah Salomo.

Salo­mo memukul wajah korban sebelah kanan. Salomo kembali membekap wajah korban dengan bantal. Kemudian Ansor naik ke bagian perut sambil memukul wajah korban. Salomo kemudian memegang kedua tangan korban, lalu kedua tangan korban diikat Salomo dengan kabel telepon selular.

Karena korban dan kedua pelaku lama bergumul, korban akhirnya lemas dan masih tetap bernapas. Hasrat Ansor menggauli korban timbul, karena korban malam itu cuma mengenakan pakaian dalam. Niat Ansor menggauli korban terlaksana. Sekira pukul 03.30 WIB, Salomo dan Ansor keluar dari rumah korban dan menuju kota Tebingtinggi untuk makan. Usai makan, mereka kembali ke warnet Nurul untuk membagi hasil pencurian. Ansor mendapatkan satu telepon selular, uang Rp250.000 dan dua bungkus rokok.

Salomo, mendapat satu telepon selular, uang Rp250.000 dan enam bungkus rokok. Ansor dan Salomo, sekira pukul 09.00 WIB, baru mengetahui bahwa korban telah me­ninggal dunia dari temannya. (KRO/RD/ans)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com