Para Petani di Dairi Lakukan Perburuan Tikus

Para Petani di Dairi Lakukan Perburuan Tikus

RADARINDO.co.id : Puluhan petani jagung dan padi sawah berburu tikus di lahan pertanian Desa Sumbul Kecamatan Lae Parira Kabupaten Dairi, Jum’at (3/5). Mereka dibagi 10 grup men­cari sarang diantara pematang sa­wah. Ditemukan bahwa di bawah permukaan tanah, terdapat terowongan ber­diameter kecil yang merupakan sarang se­kaligus persembunyian hama dimaksud.

Kegiatan dipandu Penyuluh Pertanian dan Dinas Pertanian, Dormayanti Sidebang dan Petugas Pengamat Hama, Togu Raja­guk­guk dibantu anggota Babinsa, Jum’at (3/5).

Dormayanti menjelaskan, luas lahan tanaman pagan pangan di desa itu mencapai 110 hektar. Hampir keseluruhan diserang. Pe­nurunan produksi mencapai 25 persen. “Kalau namanya fuso, belum sampai ke sa­na. Sebab, istilah fuso dialamatkan ter­hadap hamparan. Hanya saja, lahan tertentu semisal milik perseorangan pernah gagal panen” kata Dormayanti.

Pengendalian dilakukan dengan sistem memburu disertai pengemposan dengan bahan kimia tiran. Pengendalian itu adalah tahap kedua se­­telah memusnahkan ribuan ekor or­ga­nisme pengerat itu di daerah hulu, 2 pekan lalu. Pada pengendalian hari itu, jumlah ti­­kus yang ditangkap memang tidak se­be­rapa. Pengendalian akan dilakukan berkesinambungan.

Togu Rajagukguk menjelaskan, 9 desa di Kecamatan Lae Parira terusik oleh hama itu. Ledakan dirasakan selama 4 bulan ter­akhir. Pihaknya menyarankan penun­da­an tabur semai dan musim tanam padi sawah guna memutus rantai makanan.

“Sepanjang makanan tersedia, pengen­da­lian sukar berhasil. Reproduksi akan ber­kesinambungan bila bahan makanan hama mencukupi,” kata Rajagukguk,

Itulah saah satu kendala selama ini. Ter­tib tanam sukar diterapkan. Masing-masing petani, sepertinya mengelola sesuai waktu dan keinginannya. Problema lain, masih ditemukan lahan bergulma lebat. Kondisi sedemikian adalah habitat yang baik untuk perkembangbiakan.

Petani, John Purba mengatakan, se­per­tinya ada siklus ledakan hama per lima ta­hunan. Ini adalah peristiwa ketiga. Se­rangan itu menimbulkan kerugian ekonomi be­sar dimana Kecamatan Lae Parira me­rupakan lumbung padi terbesar di daerah otonom ini. Bukan cerita baru bila tiba-tiba lahan seseorang ludes tanpa hasil. Tong­kol jagung bisa saja seluruhnya gundul dalam hitungan 1 malam.

Dalam konteks pengendalian, kata Pur­ba, salah satu kelemahan adalah bahwa pe­­milik atau pengelola areal tidak berada di tempat saat perburuan. Anggota kelom­pok tani enggan membongkar benteng bila tanpa seijin pemilik. (KRO/RD/ANS)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com