Coba Lolos dari OTT, Bowo Sidik Sempat Kelabui Penyidik KPK

Coba Lolos dari OTT, Bowo Sidik Sempat Kelabui Penyidik KPK

RADARINDO.co.id : Anggota DPR RI, Bowo Sidik Pangarso, yang kini ditetapkan sebagai tersangka suap, ternyata sempat mengelabui penyidik KPK saat akan diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT), dengan cara memanfaatkan kesempatan saat penyidik KPK berupaya masuk ke apartemen.

“Sulit untuk memasuki apartemen itu, kan harus punya prosedur yang banyak, sehingga makan waktu yang cukup lama. Waktu itu dimanfaatkan yang bersangkutan untuk keluar dari apartemen,” kata Wakil Ketua KPK, Basaria Pandjaitan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (28/3).

Dalam kronologi OTT dijelaskan, awalnya tim KPK mendapat informasi penyerahan suap Rp 89,4 juta dari Marketing Manajer PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti, kepada seorang bernama Indung, yang diduga orangnya Bowo, di kantor PT HTK di Gedung Granadi. 
Dari tangan Indung, KPK menyita uang yang disimpan dalam amplop cokelat. Selain menangkap Indung, KPK juga menciduk 3 orang lainnya, termasuk sopir Indung, di lokasi itu.

Setelah menahan Indung dkk, tim KPK meluncur ke apartemen di wilayah Permata Hijau. Namun, dari lokasi itu, KPK hanya menangkap sopir Bowo, karena Bowo sudah kabur memanfaatkan waktu saat tim KPK berupaya masuk ke apartemen.

Meski demikian, usaha Bowo untuk kabur sia-sia. Tim KPK berhasil mengendus keberadaan Bowo dan menangkap anggota Komisi VI ini di rumahnya pada pukul 02.00 WIB dini hari. “Cukup jelas ya dengan teknik, taktik tim kita di lapangan kemudian bisa ditemukan yang bersangkutan di rumahnya,” ujar Basaria.

KPK kemudian menetapkan Bowo, Indung, dan Asty sebagai tersangka. Bowo dan Indung diduga sebagai penerima, sementara Asty tersangka pemberi suap.

Bowo diduga menerima suap terkait upaya membantu PT HTK sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk. Awalnya PT HTK memiliki kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk urusan distribusi pupuk, namun perjanjian dihentikan.

PT HTK kemudian meminta bantuan Bowo agar perjanjian itu berlanjut. Bowo pun meminta imbalan sebesar USD 2 per metrik ton. KPK menduga Bowo sudah menerima 7 kali suap dari Asty. Uang Rp 89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT itu diduga sebagai penerimaan ketujuh dengan 6 penerimaan sebelumnya disebut KPK sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130. (KRO/RD/MB)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com