Tsunami Hantam Palu-Donggala

Tsunami Hantam Palu-Donggala

KORANRADARONLINE.co.id – Jakarta: Tsunami atau gelombang laut dahsyat dengan ketinggian diperkirakan antara 1,5-2 meter menghantam Kota Palu dan Kabupaten Dong­gala, Sulawesi Tengah, Jum’at (28/9), setelah gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang ber­pusat di Donggala.

BNPB memastikan tim­bul korban jiwa akibat bencana itu, di samping kerugian material lainnya sebagai dampak bencana.

Pasca-kejadian, Presiden Joko Wi­do­do memerintahkan semua jajaran pemerintahannya untuk siap menangani kondisi akibat gempa dan tsunami ini.

“Berdasarkan konfirmasi kepada BMKG, tsunami terjadi menerjang pantai. Posko BNPB juga telah meng­konfirmasi ke BPBD bahwa tsunami telah menerjang Pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala,” kata Ke­pala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Ben­cana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (28/9).

BMKG sebelumnya telah menge­luarkan pering­atan dini tsunami lima menit setelah gempa terjadi berpusat di Donggala sekitar pukul 17.02 WIB atau 18.02 WITA.

Peringatan dini tsunami itu kemu­dian diakhiri pukul 17.36 WIB atau 18.36 WITA setelah mendapat kete­rangan air telah surut. BMKG memas­tikan tsunami telah berakhir.

“Makanya peringatan kita akhiri 17.36 WIB. Ini terjadi tsunami dan selesai, sehingga peringatan dini tsunami diakhiri,” ungkap Dwikorita dalam konferensi pers di kantornya, Jumat malam.

Dia menegaskan, peringatan tsunami diakhiri BMKG setelah air laut surut. Sebelum air surut dari daratan, BMKG belum mengakhiri peringatan tsunami.

“Namun yang kami maksud surut itu air laut yang naik ke darat itu sudah surut. Tadinya ada air, jadi tidak ada air lagi,” kata Dwikorita.

Sejumlah video viral memperli­hatkan kondisi di Palu dan Donggala akibat diterjang tsunami.

“Beberapa video yang didokumen­tasikan masyarakat dan disebarkan di media sosial mengenai tsunami di Palu dan Donggala adalah benar. Gempa tsunami menimbulkan korban jiwa,” ungkapnya.

Video-video yang beredar memper­lihat­kan kerusakan di Palu. Dua di antara­nya adalah jembatan di Pantai Talise yang patah dan kubah Masjid Agung Darussalam yang roboh.

Berdasarkan laporan sementara, ada beberapa korban yang meninggal, dan jumlah korban lainnya masih didata. “Laporan yang ada, satu orang meninggal siang tadi karena gempa 6,4 SR. Sementara, akibat tsunami, satu keluarga di pantai hilang,” kata Sutopo.

Belum diketahui jumlah anggota keluarga yang hilang. Selain itu, sejumlah warga juga dilaporkan tertim­pa bangunan. “Kami juga dapat laporan ada beberapa warga yang tertimpa oleh bangunan di kota Palu dan Donggala. Jumlahnya masih didata,” ujarnya.

Sementara, berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa kapal sempat naik ke darat akibat tsunami di Palu.

“Setelah mendapatkan informasi dari saksi di lapangan dan yang terlibat, (air laut) surut, dan saat surut memang ada beberapa kapal naik ke darat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat malam.

Terpisah, Menteri Perhu­bungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan, tsunami tersebut mengakibatkan sejum­lah kapal yang sandar di Pelabuhan Palu terlempar.

“Ada kapal yang kebetulan sandar di pelabuhan terlempar kira-kira 70 meter,” ujarnya.

Dijelaskannya, kapal yang sandar di pelabuhan milik PT Pelni (Persero), dan saat peristiwa tersebut terjadi tak ada orang di dalam kapal. Hanya saja, Men­hub belum bisa memastikan kon­disi pelabuhan di Palu saat ini.

Gempa bumi berkekuatan magnitude 7,4 SR mengguncang wilayah Palu dan Donggala, kemarin sekitar pukul 18.02 WITA. Pusat gempa berkedalam­an 10 kilometer pada 27 kilometer Ti­mur Laut Donggala, Sulawesi Tengah. (KRO/RD/ANS)

 

 

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com